Aliran Tasawuf


BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Dalam perkembangan tasawuf, telh melahirkan beberapa aliran-aliran, aliran-aliran itu muncul dikarenakan perbedaan antara ajaran-ajaran dan pemikiran-pemikiran yang terkandung di dalamnya.

1.2  Rumusan Masalah
-          Apa saja aliran yang ada dalam perkembangan tasawuf?

1.3  Tujuan
Agar kita dapat mengetahui apa-apa saja aliran yang ada pada perkembangan tasawuf beserta ajaran yang terkandung didalamnya.


BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Macam-macam Aliran Tasawuf
Orang yang pertama memberikan perhatian kepada tumbuhnya aliran-aliran dalam tasawuf Islam itu adalah Fakhruddin Al Razi.
Secara garis besar, alam pemikiran tasawuf dalam Islam telah melahirkan tujuh aliran besar. Ketujuh aliran itu adalah :
1.    Aliran Ittihad
Zun Nun Almisry (245 H) adalah sufi yang pertama kalinya mengemukakan faham ma`rifah dalam tasawuf dan dalam perkembangannya. Menurut Zun Nun, bahwa ma`rifah yang hakiki adalah ma`rifah sifat wahdaniyyah yang bagi wali-wali Allah secara khusus karena mereka menyaksikan Allah dengan hati mereka, maka terbukalah bagi mereka apa-apa yang tidak terbuka bagi orang lainnya.[1]
Apa yang telah dirintis oleh Zun Nun itu dikembangkan lebih jauh oleh Abu Yazid Thaifur bin Isa Al Bistami (261 H). Abu Yazidlah orang pertama sekali secara terbuka mengemukakan ajran ittihad. Ittihad adalah kepercayaan bahwa khaliq (Allah) dapat bersatu dengan makhluk (manusia). Yakni hubungan yang terjadi antara zat makhluk dengan khaliq. Apabila terjadi hal ini maka makhluk akan berada dalam keadaan tak sadr diri, yang mereka namakan mahwu.[2]
2.    Aliran Hulul
Al-Hulul adalah kepercayaan bahwa Allah bersemayam di tubuh salah seorang, yang kiranya bersedia untuk itu, karena kemurnian jiwanya dan kesucian ruhnya. Di antara orang-orang yang menganut akidah dan kepercayaan ini ialah Al-Hallaj.
Ajaran-ajaran Al-Hallaj tentang tasawuf tergambar dalam buah fikiran yang terpisah-pisah dan di dalam teori yang bersifat ekstrim. Menurut Abul Qasim Al Razi, Al Hallaj pernah menulis sebuah surat yang berbunyi : “ Dari yang maha pengasih lagi maha penyayang kepada fulan bin fulan”. Tatkala ditanya orang mengapa dia menulis dengan kata-kata tersebut, dia memeberikan jawban bahwa” Penulis itu hanya Allah sedang aku dan tanganku hanyalah alat belaka”.[3]
3.    Aliran Ittishal
Aliran tasawuf Ittishal dikemukakan oleh para filsuf Islam terutama Al Farabi, Ibnu Sina, Ibnu Bajah, dan Ibnu Tufail.
Abu Nasr Muhammad Al-Farabi di dalam mengemukakan konsepsinya tentang tasawuf, tidak terlepas dari keahliannya sebagi filsuf. Tasawuf menurut Al-Farabi, bukan hanya membahas masalah amal untuk kebersihan jiwa, memerangi hawa nafsu, dan kelezatan badaniyah saja, tetapi juga harus melalui akal dan pemikiran itu sendiri.
Al-Farbi memandang tingkat ma`rifah manusia dalam tasawuf adalah berjenjang naik dan apabila manusia telah berada diatas jenjang Al-Aqlul Mustafad maka manusia mampu menerima nur ketuhanan, berhubungan langsung dengan Al-Aqlul Fa`al.di tingkat ini manusia tidak lagi berda dalam tingkat ijtihad tetapi telah berda dalam tingkat pemberian Tuhan hingga dapat berhubungan langsung dengan Tuhan(Ittishal).
Al-Farabi mengemukakan bahwa sentral segal sesuatu adalah akal, maka dalam tasawufnya ia berpendapat bahwa tujuan tasawuf terkhir adalah pencapaian sa`dah yang tertinggi dalam wujud kesempurnaan ittishal dengan Al Aqlu Fa`al.
Perkembangan akal dan peningkatannya tidak bisa lepas dari perkembangan jiwa, peningkatan dan pembersihannya.[4]


4.    Aliran Isyraq
Tokoh aliran Isyraq adalah Syihabuddin Yahya bin Hafash Suhraward. Sejak kecil ia telah belajar agamadan menghafal Al-Qur`an kemudian belajar di Maraghah berguru dengan Imam Mahyuddin Al Jilli, dilanjutkan dengan belajar kepada Zahiruddin Al Qari di Asfahan, dan diteruskan dengan belajar kepada Al Mardini.
Suhrawardi meninggal dunia karena hukum bunuh yang dilaksanakan oleh Az-Zahir atas perintah Al-Ayyubi pada tahun 587 H/1191 M pada usia 83 tahun. Sebab jatuhnya hukuman bunuh itu karena penafsiran Suhrawardi terhadap berbagai hal tentang ketuhanan, kenabian dan sebagainya yang dianggap berbahaya kepada akidah kaum muslimin.
Suhrawardi mendasarkan teori filsafatnya kepada Isyraq. Kata Isyraq berasal dari bahasa Arab yang berarti timur. Secara etimologi mengandung maksud terbitnya matahari dengan sinar yang terang.
5.    Aliran Ahlul Malamah
Aliran Ahlul Malamah lahir di Nishapor pada bagian kedua abad ketiga hijriyah. Kata Al Malamah berasal dari kata laum yang artinya celaan. Ahlul Malamah adal sekumpulan orang yang mencela dan merendahkan diri mereka karena itulah tempat kesalahan-kesalahan.[5]
Ajaran kaum malamatiyah ini pada dasarnya ialah mencela diri sendiri, merendahkan dan menghinakannya didepan orang untuk melindungi keikhlasan dan kedekatan dirinya dengan Tuhan, menjaga kemurnian ketulusan dan menjauhkan diri dari kesombongan.
Tokoh-tokoh aliran ini antara lain, Hamdun Al Qassar (m.271 H), Abu Utsman Al Hairi (m.289 H), Mahfudz Al Naisaburi (m.303 H), Abul Husein Al Warraq ( m.320 H), Abu Umar Al Zujaji (m.348 H), Abul Husein bin Bandar (m.350 H), Abul Hasan bin Sahal Al Busyanji (m.348 H), Abi Ya`kub Al Nahrajuri (m.330 H), dan Muhammad bin Ahmad Al Farra` (m.370 H). Aliran ini banyak memiliki ajaran-ajaran yang bersifat ekstrem dan bertendensi negative dalam kehidupan. Oleh karena itu, aliran ini tidak banyak mendapat pengikut dan tidak bertahan lama dalam sejarah pemikiran Islam.
6.    Aliran Wahdatul Wujud
Pemimpin aliran Wahdatul Wujud adalah filsuf dan sufi yang bernama Ibnu Arabi dari Andalusia. Beliau   dilahirkan  tahun 598 H / 1102 M dan meninggal pada tahun 638 H/1240 M.
Menurut Dr. Abdul `Ala Afifi, tidak ditemui seorang tokoh aliran Wahdatul Wujud dalam Islam yang memiliki ajaran sempurna sistematis terkecuali Ibnu Arabi. Dialah peletak dasar dan Pembina ajaran-ajaran Wahdatul Wujud hingga berdiri sebagai suatu aliran.
Menurut Ibnu Arabi, adanya alam semesta ini tidak bias dipisahkan dengan sejarah Nabi Adam sendiri.[6]
Wahdatul Wujud adalah kepercayaan bahwa yang maujud (ada) itu hanyalah satu, tidak dapat diduakan. Dengan kata lain, tak ada yang maujud(ada) kecuali Allah SWT.[7]
7.    Aliran Ahlus Sunnah
Perkembangan tasawuf aliran Ahlus Sunnah dimulai dengan perkembangan teologi yaitu pembahasan di sekitar aqidah dan tampak menonjol dalam pendapat-pendapat yang dikemukakan oleh Abdullah bin Said Al Kulaby (240 H) dan kemudian berlanjut lebih jelas dalam perkembangan tasawuf di dalam konsepsi yang dikemukakan oleh Al Haris Al Muhasiby (243 H) sebagai seorang ahli kalam dan sufi.
Di bidang teologi tampil Imam Asy`ari (324 H) dan Imam Maturidi (333 H) dengan konsepsi yang sistematis hingga melahirkan daoktrin Ahlus Sunnah Wal Jma`ah.
Di bidang tasawuf, penyempurnaan apa yang telah dikemukakan oleh Al Haris Al Muhasiby dilanjutkan oleh sufi besar Junaid Al Baghdady (297 H) dengan meletakkan dasar-dasar yang kuat, dan kemudian disempurnakan secara sistematis oleh Hujjatul Islam Imam Al Ghazali (505 H) hingga terwujud doktrin Ahlus Sunnah Wal Jama`ah.
Ajaran tasawuf Ahlus Sunnah Wal Jama`ah adalah bersumber dari mereka yang di dalam hidup dan berfikir didasarkan kepada Al-Qur`an dan Sunnah dengan mengambil pelajaran dari ilmu para Nabi dan Rasul dengan mengikuti secara teratur jejak langkah mereka di dalam menghambakan diri, melakukan jihadun nafs, menegakkan akhlak yang utama dengan tingkah laku dan perbuatan yang terpuji di sisi Allah, bening hati dan bersih dalam kehidupan, dan sabar dalam mengatasi berbagai halangan dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah SWT. Mereka adalah para sahabat Rasulullah SAW seperti haritsah, Bara`ah bin Malik, Abu Israil, Huzaifah, Abi Darda`, Abu Zar, `Ukasah, Abdullah bin Umar, Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Suhaib, Abu Rafi`I, Bilal Habab dan lain-lain. Dari tabi`in antara lain : Ali bin Husein ( Zainul `Abidin), Muhammad Al Bakir, Ja`far As Shadiq, Uwais Al Qarni, Ibnu Huzaim, Salmah, Hasan Al Basri dan lain-lain.[8] 





BAB III
PENUTUP

3.1 Simpulan
Kalau kita lihat kepada berbagai aliran itu dengan ajran-ajaran yang terkandung didalamnya, maka sebagian dari aliran-aliran tersebut masih tetap berada dan lurus menurut jalan yang di tetapkan oleh Al-Qur`an dan hadits, dan sebagian lainnya ada yang menyimpang dalam bentuk ajaran-ajaran yang ekstrim.


DAFTAR PUSTAKA
Al Payami, Ma`ruf,  Islam dan Kebathinan, Solo : CV. Ramadhani, 1992.

Mansur, M. Laily, Tasawuf Islam Mengenal Aliran dan Ajaran, Jakarta : Lambung Mangkurat University Press, 1992


[1] M. Laily Mansur, Tasawuf Islam Mengenal Aliran dan Ajaran, (Jakarta : Lambung Mangkurat University Press, 1992), hlm. 47.

[2] Ma`ruf Al Payami, Islam dan Kebathinan (Solo : CV. Ramadhani, 1992), hlm.69.
[3] M. Laily Mansur, Tasawuf Islam Mengenal Aliran dan Ajaran, opcit, hlm. 51
[4] Ibid, hlm. 57.
[5] Ibid, hlm. 69.
[6] Ibid, hlm. 75.
[7] Ma`ruf Al Payami, Islam dan Kebathinan, opcit, hlm. 69
[8] M. Laily Mansur, Tasawuf Islam Mengenal Aliran dan Ajaran, opcit, hlm. 83.