Resume Obstetri

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Praktik berdasarkan data, keterampilan kebidanan, dan pilihan pribadi pasien harus menjadi dasar untuk memberikan asuhan kebidanan yang baik. Banyak praktik bidan dalam lingkungan politik tempat mereka harus menangani beban kerja berlebihan dan menyeimbangkan keterampilan kebidanan mereka dengan protokol medis. Sering ada pertentangan dan dengan keyakinan mengambil tindakan atau tidak mengambil tindakan tertentu yang sangat menyulitkan. Beberapa tenaga kesehatan harus mengetahui ilmu kesehatan tetapi tidak semua dipraktikkan oleh bidan. Dalam kebidanan menangani hal-hal yang fisiologis tetapi juga harus mengetahui kemungkinan komplikasi yang akan terjadi pada ibu hamil, bersalin dan nifas.
Patologis yang kemungkinan terjadi diantaranya Perdarahan dalam Kehamilan Muda seperti Abortus, Kehamilan Ektopik dan Mola Hidatidosa, Heperemesis Gravidarum, Pre Eklampsi dan Eklampsi, Perdarahan Ante partum (Hemurrhagic Ante Partum) seperti plasenta previa dan solusiao plasenta, Perdarahan Post Partum (Hemurrhagic Post Partum) seperti Retensio plasenta dan inversion uteri, Syok dalam Obstetri, Kehamilan Ganda dan Kehamilan Risiko Tinggi. Dalam makalah ini akan diuraikan masing-masing mulai dari pengertian, etiologi, patofisiologi, gejala dan tanda komplikasi, dan penatalaksanaannya.

B. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Memenuhi tugas Ulangan Tengah Semester
2. Mengetahui Macam-macam komplikasi dalam Obstetri
3. Memahami lebih luas tentang Ilmu Kesehatan dalam obstetri
4. Menjadikan materi yang berguna untuk bekal pembelajaran nantinya

C. Sistematika Penulisan
Dalam penulisan makalah ini penulis mendapatkan informasi dan pengetahuan dari pembelajaran kebidanan Semester II Prof.dr. Adjar Wibowo, SPoG, buku-buku perpustakaan, dan media internet.














BAB II
A. PERDARAHAN PADA KEHAMILAN MUDA
 ABORTUS
1. Definisi
Abortus adalah pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup di luar kandungan,dengan usia kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat janin kurang dari 500 gram di sertai dengan pendaran. (Sarwono Prawirohardjo).
2. Etiologi
• Abnormal Genetalia: Malformasi (Uterus Bicornus, Adhesi Intrauterin), Tumor Uteri, Inkompentensia Serviks (Trauma, Kelemahan jaringan ikat), gangguan Endokrin (Hipoplasia Endometrium), Infeksi (Servisitis, Endometritis)
• Anomali Ekstragenetalia: Gangguan Endokrin (Diabetes, hipertiroidisme), Infeksi (kontraksi Uterus yang diperantarai-suhu, Infeksi toksik janin, anemia, cedera.
• Penyebab fetoplasenta: aberasi kromosom, Anomali fotoblas (hiperplasia, Hipoplasia, defisiensi vascular), Gangguan nidasi (plasenta Previa), Gangguan trofoblastik fungsional).
• Penyebab imunologis: Gangguan toleransi imun (imunoproteksi, agresivitas kronis).
• Abnormalitas Androgen: Abortus sprematogenik, anomaly genetic, Anomali Sperma (jumlah, teratosperma, Gangguan Enzim ), abnormalitas kromosom.
• Penyebab lain: Abortus iatrogenic dan abortus induksi, Radiasi, Pengobatan, Inokulasi.
(Buku Saku Kebidanan Thomas Rabe)


3. Tanda dan Gejala
Tanda dan Gejala Komplikasi Penanganannya
• Nyeri Abdomen Bawah
• Nyeri Lepas
• Uterus Terasa Lemas
• Perdarahan Berlanjut
• Lemah-Lesu
• Demam
• Sekret Vagina Berbau
• Sekret dan pus dari Vagina
• Nyeri Goyang Serviks Inveksi / Sepsis Mulailah antibiotika * sesegera mungkin sebelum melakukan aspirasi vakum manual
• Nyeri/Kaku pada abdomen
• Nyeri Lepas
• Distensi Abdomen
• Abdomen terasa tegang dan keras
• Nyeri pada bahu
• Mual/Muntah
• Demam Perlukaan Uterus, Vagina atau usus Lakukan laparotomi untuk memperbaiki perlukaan dan lakukan aspirasi vacuum manual secara berurutan.
Mintalah bantuan lebih lanjut jika dibutuhkan.


( MNH )

4. Patofisiologi
Pada permulaannya terjadi pendarahan dalam desidua basalis, diikuti oleh nekrosis jaringan sekitarnya, kemudian sebagian atau seluruh hasil konsepsi terlepas. Karena dianggap benda asing,maka uterus berkontraksi untuk mengeluarkannya. Pada kehamilan dibawah 8 minggu, hasil konsepsi dikelurkan seluruhnya, karena vili koeralis belum menembus desidua terlalu dalam. Sedangkan pada kehamilan 8-14 minggu telah masuk agak dalam, sehingga sebagian akan keluar dan sebagian lagi akan tertinggal. Karna itu akan banyak terjadi pendarahan.

5. Komplikasi Abortus
 Perdarahan
 Perforasi: sering terjadi seewktu dilatasi dan kuretase yang dilakuan oleh tenaga yang tidak ahli seperti bidan atau dukun.
 Infeksi dan tetanus
 Payah

6. Jenis-jenis Abortus
Jenis-jenis Abortus Pengertian Tanda dan Gejala Penangannya
Abortus Spontan Abortus yang terjadi secara spontan / alami, tanpa tindakan.
Buatan: menggugurkan secara sengaja (terapeutik, kriminalis). - Perdarahan Pervagina
- Nyeri abdomen Hanya dengan terapi uterotonika
Abortus Imminens abortus yang masih dapat dipertahankan, ostium uteri masih tertutup. - Perdarahan Pervagina
- Nyeri abdomen Kalau pendarahan setelah beberapa minggu masih ada maka perlu ditentukan apakah kehamilan masih baik atau tidak, bila tidak sebaiknya dikuretase.
Abortus Insipiens abortus yang masih dalam masa pengeluarkan tetapi masih berada didalam. - Perdarahan Pervagina berlanjut. Bila ada tanda-tanda syok maka atasi dulu dengan pemberian cairan dan transfuse darah. Kemudian di kuretase, setelah itu berikan obat-obatan uterotonika dan antibiotic.
Abortus Inkomplit Sebagian hasil konsepsi telah keluar dari cavum uteri dan masih ada yang tertinggal. - Sakit amenorea
- Perdarahan yang banyak
- Sudah keluar fetus Sama dengan penanganan abortus insipiens.
Abortus Komplit abortus yang telah lengkap keluar dari cavum uteri. - Perdarahan Pervagina yang darahnya menggumpal
- Nyeri abdomen yang hebat Berikan obat uterotonika
Missed Abortion abortus yang lebih dari 4 minggu tidak dikeluarkan, akan terjadi pembekuan darah serta janin akan mongering didalam.
- Dijumpai amenorea
- Perdarahan yang sedikit tetai berulang
- Selama observasi fundus tidak bertambah tinggi tapi malah bertambah rendah Berikan obat dengan maksud agar terjadi his sehingga fetus dan desisua dapat dikeluarkan

Jika tidak berhail lakukan dilatasi dan kuretase.
Berikan juga tonika dan antibiotika.
Abortus Habitualis Abortus Spontan yang terjadi 3 kali atau lebih berturut-turut Lakukan terapi pertif : SHIRODKAR atau MC DONALD.
Abortus septik Abortus yang disertai penyebaran infeksipada peredaran darah tubuh atauperitoneum.
Amenore, perdarahan yang berbau, demam, nadi cepat, panas tinggi, menggigil, tekanan darah turun sampai syok
-Bila perdarahan banyak berikan transfisu darah dan cairan yang cukup.

Berikan antibiotic yang cukup dan tetap.

Lakukan dilatasi dan kiretase untuk mengeluarkan hasil konsepsi


 KEHAMILAN EKTOPIK
1. Definisi
Adalah kehamilan yang terjadi diluar endometrium. Tuba fallopii merupakan tempat tersering untuk terjadinya kimplantasi kehamilan ektopik.

2. Etiologi
Sesuai dengan awal kehamilan, sejak pembuahan sampai nidasi, bila nidasi terjadi diluar cavum uteri / diluar endometrium maka terjadi kehamilan ektopik. Adpun faktor-faktornya sebagai berikut :
• Infeksi pada tuba
• Tuba sempit / buntu
• Kelainan endometrium
• Implantasi

3. Tanda dan Gejala
• Terlambat haid
• Test urine positif
• Penderahan pervagina
• Nyeri abdomen
• Penurunan HB
• Saat dilakukan palpasi tidak teraba TFU dan saat ditekan dibawah abdomen ibu akan merasa sakit.

4. Patofisiologi
Pada proses awal kehamilan apabila embrio tidak bias mencapai endometrium untuk proses nidasi, maka embrio dapat tumbuh disaluran tuba dan kemudian akan mengalami beberapa proses seperti pada kehamilan pada umumnya. Karena tuba bukan merupakan suatu media yang baik untuk pertumbuhan embrio, maka akan terjadi kehamilan etopik.

5. Komplikasi Yang Mungkin Terjadi
 Perdarahan pervagina
 Syok

6. Penatalaksanaan
 Rujuk ke rumah sakit
 Lakukan pemeriksaan USG
 Lakukan pemeriksaan β HCG
 Lakukan laparotomi (pembuangan janin)

 MOLA HIDATIDOSA
1. Definisi
Mola hidatidosa adalah jonjot-jonjot korion (chorionic vili) yang tumbuh bergada berupa gelembumg-gelembung kecil yang mengandung banyak cairan sehingga menyerupai buah anggur, mata ikan. Kelainan ini meruakan noeplasma trofoblas yang jinak. Hal ini disebabkan oleh kelainan pertumbuhan trofoblas plasenta yang bersifat neolpastik.
Mola ini terbagi 2:
1. Mola jinak
2. Mola ganas, mola ganas terbagi 2:
 Invasive
 Chorio karsinoma
2. Etiologi
Penyebab mola hidatidosa tidak diketahui, factor-faktor yang dapat menyebabkannya antara lain:
• Faktor Ovum
• Imunoselaktif dari trofoblas
• Keadaan sosio-ekonomi yang rendah
• Paritass tinggi
• Kekurangan protein
• Inveksi virus dan factor kromosom yang belum jelas
3. Tanda dan Gejala
• Anamnesis: kadang kala ada tanda tokseinia gravidarum.
• Palpasi: pembesaran uterus tadak sesuai dengan tuanya kehamilan dan teraba lembek.
• Inspeksi: muka kelihatan pucat.
• Auskultasi: tidak terdengar DJJ
• Kadar hCG tinggi
4. Patofisiologi
Jonjot-jonjot korion tumbuh berganda dan mengandung cairan merupakan kista-kista kecil seperti anggur. Biasanya didalamnya tidak berisi embrio. Secara histopatologik kadang-kadang ditemukan jaringan mla pada plasenta dengan bayi normal. Bias juga terjadi kehamilan ganda mola adalah : satu janin tumbuh dan yang satu lagi menjadi mola hidatidosa.
5. Komplikasi
• Perdarahan yang hebat sampai syok
• Perdarahan berulang-ulang yang dapat menybabkan anemia
• Infeksi sekunder
• Perforasi karena keganasan dank arena tindakan
• Menjadi ganas (PTG) pada kira-kira 18-20 % kasus, akan menjadi mola destruens dan koriokarsinoma.

6. Penanganannya
• Kuretase 2 kali
• Periksa ulang tiap minggu
• Suostatikaprqfilaksis (MTX )

 HAP (HEORAGIK ANTEPARTUM)
Adalah perdarahan yang terjadi pada kehamilam tua / pada kehamilan 20 minggu keatas. HAP biasanya terjadi karena kelainan plasenta: Plasenta previa, solusio plasenta, marginal searasi plasenta.
Plasenta Previa
1. Definisi
Adalah keadaan dimana plasenta berimplantasi pada tempat abnormal, yaitu pada segmen bawah rahim (SBR) sehingga menutupi sebagian atau seluruh Ostium Uteri Internum.
Jenis-jenis plasenta previa:
a. Plasenta Previa totalis / komplit: plasenta yang menutupi seluruh ostium uteri internum.
b. Plasenta Previa lateralis / parsialis: plasenta yang menutupi sebagian (1/2) OUI.
c. Plasenta Marginalis : plasenta yang tepi / ujungnya berada pada pinggir OUI.
d. Plasenta Letak Rendah: Plasenta yang berimplantsi pada SBR sehingga tepi bawahnya berada pada jarak ± 2 cm.

2. Etiologi plasenta previa
- Belum diketahui pasti
- Vaskularisasi desidua yang tidak memadai
- Paritas tinggi
- Hipoplasi endometrium
- Cacat rahim : SC, miomektomi
- Plasenta besar : kehamilan ganda
- Tumor : mioma uteri, polip endometrium
- Kadang-kadang malnutrisi

3. Tanda dan Gejala
- Perdarahan tanpa sebab, tanpa nyeri dan berulang
- Perdarahan pervagina: banyak, sedikit, darah beku, dilihat pucat dan anemis
- Malpresentasi janin / kelainan letak janin

4. Patofisiologi
Seluruh plasenta biasanya terletak pada segmen atau uterus. Kadang-kadang bagian atau seluruh organ dapat melekat pada segmen bawah uterus, dimana hal ini dapat diketahui sebagai plasenta previa. Karena segmen bawah agak merentang selama kehamilan lanjut dan persalinan, dalam usaha mencapai dilatasi serviks dan kelahiran anak, pemisahan plasenta dari dinding usus sampai tingkat tertentu tidak dapat dihindarkan sehingga terjadi pendarahan.

5. Komplikasi
• Prolaps tali pusat
• Prolaps plasenta
• Plasenta melekat: mual / kerokan
• Robekan jalan lahir karena tindakan
• Perdarahan postpastum
• Infeksi
• Bayi prematus / lahir mati

6. Penatalaksaan
a. Segera melakukan operasi persalinan
b. Bidan yang menghadapi perdarahan plasenta previa segera lakukan rujukan ke pelayanan yang lebih tinggidilengkapi dengan :
• Pemasangan infuse, diantar petugas, dilengkapi keterangan/ surat rujukan, persiapkan donor darah/ transfusi darah.
c. Penanganan pasif:
• Kirim ke RS tanpa memanipulasi baik rectal maupun vagina
• Apabila penilaian baik, perdarahan sedikit, janin masih hidup, belum inpartu, kehamilan belum cukup 37 minggu/ berat badan janin dibawah 2500gram, maka kehamilan dipertahankan
• Beri obat-obatan penambah darah
• Cek gol. darah dan siapkan donor transusi darah.
d. Cara persalinan:
• Persalinan pervagina: Amniotomi dengan syarat ( plasenta previa lateralis/marginalis dengan pembukaan 4cm/ letak rendah/ janin sudah meninggal)
• Plasenta previa sentralis (totalis): SC

Solusio Plasenta
1. Definisi
Adalah terlepasnya sebagian atau seluruh permukaan meternal plasenta dari tempat implantasinya yang normal pada lapisan desidua endometrium sebelum waktunya yakni sebelum anak lahir.
Menurut derajat lepasnya plasenta:
a. Solusio plasenta parsialis: bila hanya sebagian saja plasenta terlepas dari perlekatannya.
b. Solusio plasenta totalis: bila seluruh plasenta sudah terlepas dari perlekatannya.
c. Prolapsus plasnta: plasenta turun ke bawah dan dapat teraba pada pemeriksaan dalam.

2. Etiologi
Belum diketahui pasti, namun ada beberapa factor yang mempengaruhinya:
a. Faktor vaskuler (80-90 %) yaitu toxemia gravidarum, glomeruluronefritis kronika, dan hipertensi esensial.
b. Faktor trauma: pengecilan yang tiba-tiba pada uterus pada hidramnion dan gamely serta tarikan pada tali pusat yang pendek akibat pergerakan janin yang banyak / bebas, versi luar atau pertolongan persalinan.
c. Factor paritas: sering terjadi pada multi para.
d. Pengaruh lain: anemia, malnutrisi, tekanan uterus pada vena cava inferior.
e. Trauma langsung : jatuh, kena tendang.

3. Tanda dan Gejala
a. Perasaan sakit yang tiba-tiba.
b. Perdarahan pervagina.
c. Kepala tersa pusing, lemas, pucat, pandangan berkunang-kunang.
d. Amemis yang tidak sesuai dengan banyak darah yang keluar.
e. Uterus tidak sesuai dengan tua kehamilan.
f. Uterus teraba tegang dank eras seperti papan.


4. Patofisiologi
Perdarahan dapat terjadi pada pembuluh darah plasenta atau uterus yang membentuk hematom pada desisua, sehingga plasenta terdesak akhirnya terlepas. Apabila perdarahan sedikit, hematom yang kecil itu hanya akan mendesak jaringan plasenta, peredaran darah antara uterus dan plasenta belum terganggu dan tanda serta gejalanya pun tidak jelas. Kejadiannya baru diketahui setelah plasenta lahir yang pada pemeriksaan didapatkan cekungan pada permukaan maternalnya dengan bekuan darah lama yang warnanya kehitam-hitaman.
Biasanya perdarahan akan berlangsung terus menerus karena otot uterus yang telah meregang oleh kehamilan itu tidak mempu untuk lebih berkontraksi menghentikan pendarahannya. Akibatnya, hematom retroplasenter akan bertambah besar, sehingga sebagian dan akhirnya seluruh plasenta terlepas dari dinding uterus.

5. Komplikasi
• Perdarahan, infeksi, emboli dan syok obstetric
• Kontraksi uerus tidak baik, Hipofibrinogemia dgn perdarahan PP, Nekrosis korteks renalis menyebabkan anuria, kerusakan organ hati dan hipofise.

6. Penanganan
a. Lakukan rujukan ke RS dengan melakukan: pemasangan infuse, tanpa melakukan pemeriksaan dalam, diantar petugas, mempersiapkan donor, menyertakan surat rujukan.
b. Terapi konsevatif: tunggu sampai perdarahan berhenti dengan observasi dan akhirnya partus spontan dengan memberikan suntikan morfin subkutan, stimulus dengan kardiotonika seperti pentazol, dan transfuse darah.
c. Terapi aktif: mencoba tindakan agar anak segera lahir dan perdarahan berhenti, berikan oksitosin, bila pembukaan lengkap kepala di H III – IV, janin hidup lakukan ekstraksi vacuum, lakukan SC.
d. Histerektomi dilakukan pada afibrinogemia.

 PREEKLAMSI – EKLAMSI
1. Definisi
Merupakan kumpulan gejala atau penyakit yang timbul pada bumil, bulin, dan masa nifas yang terdiri dari trias, yaitu: hipertensi, protein urine, odema yang kadang-kadang disertai konvuisi sampai koma. Terjadi pada kehamilan 20 minggu ke atas. Preeklamasi terbagi 2:
 Preeklamsi ringan: suatu sindroma spesifik kehamilan dengan menurunnya perfusi organ yang berakibat terjadinya vasospasme pembuluh darah dan aktivasi endotel.
- Hipertensi: 140/90 mmHg, kenaikan sistol ≥ 30 mmHg dan kenaikan diastole ≥ 15 mmHg.
- Protein urine: ≥ 300 mg/24 jam atau ≥ 1+ dipstick.
- Edema : pada muka, lengan dan perut.
 Preeklamsi berat: peeklamsi dengan tekanan darah ≥ 160/110 mmHg
- Protein urin 5 g/ 24 jam atau 4+,
- Oliguria, nyeri epigastrium, gangguguan fungsi hepar.
2. Etiologi
Sampai sekarang belum ditemukan penyabab pastinya, tetapi ada beberapa faktor yang mempengaruhi, yaitu:
- Genetika
- Faktor presdiposisi :
• Primigravida, primipateniti (janda kawin lagi)
• Plasenta besar.
• Umur yang ekstrim (di bawah 20 thn di atas 35 thn).
• Obesitas.
3. Tanda dan Gejala
• Hypertensi
• Protein urine
• Odema
• Nyeri kepala pada daerah frontalis
• Pandangan kabur
• Nyeri epigastrium
• Mual dan muntah diatas usia kehamilan 20 minggu
4. Patofisiologi
- Teori vaskularisasi plasenta
- Iskemia plasenta, radikal bebas dan disfungsisi
- Teori imunologik
- Adaptasi radio vaskuler
- Kekurangan gizi
5. Komplikasi
Maternal Fetus
Eklamsia (kejang & koma) IUGR
Pendarahan otak IUFD
Kerusakan ginjal Prematuritas
Gagal jantung
Gangguan hepar
6. Penatalaksanaan
- Pencegahan : ANC teratur.
 HPP (HAEMORAGIC POST PARTUM)
Perdarahan postpartum adalah perdarahan lebih dari 500-600 ml dalam masa 24 jam setelah anak lahir.
RETENSIO PLASENTA
1. Definisi
Adalah keadaan dimana plasenta belum lahir dalam waktu ½ jam setelah bayi lahir.
2. Etiologi
a. Plasenta belum terlepas dari dinding rahim karena tumbuh melekat lebih dalam.
b. Plasenta sudah lepas tetapi belum keluar karena atonia uteri dan akan menyebabakan perdarahan yang banyak.
c. Karena adanya lingkaran konstriksi pada bagian bawah rahim akibat kesalahan penanganan kala III yang menghalangi plasenta keluar.
3. Tanda dan Gejala
• Perdarahan
• Uterus atoni
4. Patofisiologi
5. Komplikasi
• Atonia uteri
• Perforasi
• Perdarahan uterus
• Tampon gagal
6. Penanganannya
• lakukan placenta manual
• histrektomi
• bila perdarahan banyak berikan transfuse darah
• berikan obat-obatan seperti uterotonika dan antibiotic

 SYOK DALAM OBSTETRI
1. Definisi
Syok adalah kegagalan sirkulasi darah untuk memenuhi oksigen dan makanan / nutrisi ke jaringan dan tidak mengeluarkan hasil metabolism.
2. Etiologi
Perdarahan, neurologic, kardiogenik, endotoksik / septic, anafilaktik, emboli, komplikasi anastesi dan kombinasi.
3. Tanda dan Gejala
Tekanan darah menurun, nadi cepat dan lemah, pucat, keringat dingin, sianosis jari-jari, sesak nafas, pengelihatan kabur, gelisah dan akhirnya oliguria/ anuria.

I. SYOK HEMORAGIK
1. Definisi
Adalah suatu syok yang disebabkan oleh perdarahan yang banyak yang dapat disebabkan oleh perdarahan antepartum separti plasenta previa, solosio plasenta dan reptura uteri, juga disebabkan perdarahan pascapersalinan seperti atonia dan laserasi vagina / serviks.

Klasifikasi perdarahan:
Kelas Jumlah perdarahan Gejala klinik
I 15 % (ringan) Tekanan darah dan nadi normal
Tes Tilt
II 20-25 % (Sedang) Takikardi- takipnea, tekanan nadi < 30 mmHg, Sistolik rendah, Pengisian kapiler lambat III 30-35 % (Berat) Kulit dingin, berkerut, pucat TD sangat rendah, gelisah, oliguria (< 30 ml/jam), asidosis metabolic (pH < 7,5) IV 40-45 % (sangat berat) Hipotensi berat, hanya nadi karotis yang teraba, syok irreversibel Fase Hemoragik: a. Fase Kompensasi - Rangsangan atau refleks simpatis respon pertama terhadap kehilangan darah - Gejala klinik : pucat, takikardia, takipnea b. Fase Dekompensasi - Perdarahan > 1000 ml pada pasien normal.
c. Fase kerusakan jaringan dan berbahaya kematian
Penanganan peradarahan yang tidak adikuat menyebabkan hipoksia jaringan yang lama dan kematian jaringan dengan akibat:
 Asidosis metabolic
 Dilatasi arteriol
 Koagulasi intravaskuler
 Kegagalan jantung
2. Komplikasi
• Gagal ginjal akut
• Nikrosis hipotisme
• Koagulasi intravascular diseminata (DIC)

3. Penangananya
1) Cari dan hentikan segera penyebab perdarahan
2) Bersihkan saluran nafas dan beri oksigen
3) Naikkan kaki untuk meningkatkan aliran darah kesirkulasi sentral
4) Pasang 2 set infuse atau lebih untuk transfuse cairan infuse dan obat-obat IV
5) Kembalikan volume darah dengan:
a. Darah segar
b. Larutan kristaloid
c. Larutan koloid
6) Terapi obat-obatan:
a. Analgetik
b. Korticosteroid
c. Sodium bikarbonat
d. Vasopresor
7) Monitoring:
a. CVP (Central Venous Pressure)
b. Nadi, TD, Produksi urine, tekanan kapiler paru
c. Pernbaikan klinik : pucat, sianosis, sesak, keringat dingin, dan kesadaran

II. SYOK ENDOTOKSIK (SYOK SEPTIK)
1. Definisi
Kuman yang mengeluarkan racun dan bakteri yang masuk ke dalam darah.
2. Etiologi
• Abortus
• Ketuban pecah yang lama
• Infeksi pascapersalinan
• Trauma
• Sisa plasenta
• Sepsis peurperalis
• Pielonefritis akut
3. Tanda dan gejala
• Stadium I ( Reversible):
- Fase Panas: hipotensi, takikardi, pireksia dan mengigil, kulit kelihatan merah dan panas.
- Fase dingin: kulit dingin dan mengkriput, sianosis, purpura, jaundice, penurunan kesadaran yang progresif dan koma.
• Stadium II (Irreversible):
- Hipoksia sel yang berkepanjangan yang menyebabkan gajala asidosis metabolic, gagal ginjal akut, gagal jantung, edema pulmonalis, gagal adrenal, kematian.
4. Penanganan
 Pengembalian fungsi sirkulasi dan Oksigenasi
- Penggantian kehilangan darah
- Kortikostiroid
- Beta-adrenergik stimulant
- Oksigen
- Aminofilin
 Eradikasi infeksi
- Terapi antibiotika
- Terapi operatif
 Koreksi cairan dan elektrolit
 Koagulasi Intravaskular Diseminata



III. SYOK karena EMBOLI AIR KETUBAN
1. Definisi
Masuknya cairan amnion kedalam sirkulasi ibu menyebabkan kolaps pada persalinan dan hanya dapat dipastikan dengan autopsy.
2. Etiologi
• Adanya his yang kuat
• Pemberian uterotinika yang berlebhan
3. Tanda dan Gejala
• Tiba-tiba kolaps, sianosis dan sesak nafas berat
• Tekanan darah menurun
• Nadi cepat dan lemah
• Kesadaran menurun disertai dengan nistagemus
4. Patofisiologi
• Kontraksi yang sangat kuat, ketuban pecah, luka yang terbuka
• Emboli mengalir ke pembuluh darah paru-paru dan akan menyebabkan kematian tiba-tiba / syok tanpa adanya perdarahan.
5. Investigasi
• ECG, X-Ray, Scanning paru, pemeriksaan laboratorium.
6. Komplikasi
• Gangguan kardiovaskuler
• Gangguan pembekuan darah
• Koagulasi intravaskuler
7. Penatalaksanaan
• Oksigen, Aminofilin, Isoprenalin, Digoksin dan atropine, Hidrokortison, Larutan bikarbonat, Dekstran berat molekul rendah, heparin.


IV. SYOK KARDIOGENETIK
1. Definisi
Syok kardiogenetik adalah penyakit pembuluh darah yang hebat.
2. Etiologi
Faktor-faktor risiko :
• Umur tua, multiparitas, kehamilan kembar, pre-eklamsia.
3. Tanda dan Gejala
Dilatasi vena-vena dileher, dipsnea, desah sistol dan diastole, edema yang menyeluruh.
4. Patofisiologi
Semua macam syok apapun penyebabnya bersumber pada berkurangnya perfusi jaringan dengan darah sebagai akibat gangguan sirkulasi mikro. Suatu kesatuan sirkulasi mikro terdiri dari arteriol, metarteriol, kapiler dan venula. Darah dari arteriol memasuki metateriol, dari metateriol darah memasuki kapilar. Metarteriol mempunyai struktur antara arteriol dan kapiler.
Bilamana metabolisme dalam jaringan meningkat dan timbul suatu metabolisme yang anaerob seperti dalam syok, terjadilah peningkatan tumpukan sampah metabolisme. Bahan-bahan ini mempunyai pengaruhi mengurangi tonus otot pembuluh darah prekapilar dan sfingter prekapilar. Dengan demikian timbul vasodilatasi, sehingga aliran darah kapilar akan meningkat, sebaliknya bila aktivitas lebih rendah , terjadilah vasokonstriksi pembulUh-pembuluh darah prekapilar, sehingga aliran darah di dalamnya menurun. Rangsangan simpatikus yang meningkat akan menimbulkan kontraksi otot polos dari vena-vena kecil dan venula dari sirkulasi mikro.
Dengan demikian kapasitasnya berkurang sehingga meningkatkan pengaliran darah jantung. Sebaliknya , penurunan tonus pembuluh-pembuluh darah pascakapilar akan sangat mengurangi pengisian jantung dan dapat mengakibatkan hipotensi yang berat.
5. Komplikasi
• Acute renal failure (gagal ginjal)
• Pitutary necrosis (sheehan’s syndrome)
• DIC (Disseminated Intravaskular Coagulation)
6. Penangannya
• Pemberian diuretic, vasodiladator, digoksin, dan follow up yang ketat.

V. CARDIAC ARRES (HENTI JANTUNG)
1. Definisi
Henti jantung adalah suatu keadaan kolaps sirkulasi yang tiba-tiba karena kegagalan jantung untuk memompa darah secara adekuat.
2. Etiologi
• Perdarahan berat
• Hipoksia karena eklamsi
• Sindrom mendelson
• Emboli
3. Tanda dan Gejala
• Kolaps mendadak, kesadaran menurun, nadi tidak teraba, sesak nafas, dilatasi pupil yang menetap
• abnea dan sianosis,
4. Penanganan
Menekan di atas jantung dengan langkah ABC.
- A = Airway: bersihkan jalan nafas
- B = Breating: member bantuan nafas (mouth to mouth)
- C = Cardiac massage: tangan menekan dada
- D = Drip and drug: berikan larutan sodium bikarbonat
- E = Elekrokardiogram
- F =Fibrillation treatment

 HYPEREMESIS GRAVIDARUM
1. Definisi
Adalah mual dan muntah yang berlebihan pada wanita hamil sampai mengganggu pekerjaan sehari-hari karena keadaan umumnya menjadi beruk karena terjadi dehidrasi.
2. Etiologi
Sebab pasti belum diketahui. Factor-faktor presdiposisi yang ditemukan:
• Sering terjadi pada primigravida, mola hidatidosa, diabetes, dan kehamilan ganda akibat peningkatan kadar hCG
• Factor organic, karena masuknya villi khoriales dalam sirkulasi maternal dan perubahan metabolic
• Factor psikologik; keretakan rumah tangga, kehilangan pekerjaan, rasa takut terhadap kehamilan dan persalinan, takut memikul tanggung jawab, dsb
• Factor endokrin lainnya; hipertiroid, diabetes, dll.
3. Gejala dan Tingkat
Tingkat I = Ringan
Mual muntah terus-menerus menyebabkan penderita lemah, tidak mau makan, berat badan turun dan rasa nyeri di epigastrium, nadi sekitar 100 X/menit, tekanan darah turun, turgor kulit kurang, lidah kering, dan mata cekung.
Tingkat II = Sedang
Mual dan muntah yang hebat menyebabkan keadaan umum penderita lebih parah; lemah, apatis, turgor kulit mulai jelek, lidah kering dan kotor, nadi kecil dan cepat, suhu badan naik (dehidrasi ), ikhterus ringan, berat badan turun, mata cekung, tensi turun, hemokonsentrasi, oliguri dan konstipasi.
Tingkat III = Berat
Keadaan umum jelek, kesadaran sangat turun, somnelon sampai koma, nadi kecil, halus dan cepat, dehidrasi hebat, suhu badan naik, dan tensi turun sekali, ikhterus.
4. Patofisiolagi
• Hepar: pada tingkat ringan hanya ditemukan degenerasi lemak sentrilobuler tanpa nekrosis
• Jantung: jantung atrofi kecil dari biasa, kadang kala dijumpai perdarahan subendokardial
• Otak: terdapat bercak perdarahan pada otak
• Ginjal: tampak pucat, degenerasi pada tubuli kontorti
5. Komplikasi
• Perkembangan janin terganggu
• Berat Bayi Lahir Rendah
• Kerusakan Ginjal
• Hepatitis
• Gangguan fungsi organ
• Gangguan psikologis
6. Penanganan
• Terapi obat: menggunakan sedative, vitamin B1 dan B6, berikan antasida dan anti mulas
• Hiperemesis II dan III harus dirawat inap di Rumah Sakit
- Penambahan cairan berupa infus glukosa 5% dan RL, serta berikan obat-obatan sperti yang disebutkan diatas.


 PERSALINAN PRETERM
1. Definisi
Persalinan preterm adalah persalinan yang terjadi pada usia kehamilan ≤ 37 minggu.
2. Etiologi
Persalinan premature merupakan kelainan proses yang multifaktorial. Kombinasi keadaan obstetric, sosiodemografi, dan factor medic mempunyai pengaruh terhadap persalinan premature. Sebagai akibat proses patogenik yang merupakan mediator biokimia yang mempunyai dampak terjadinya kontraksi rahim dan perubahan serviks, yaitu:
• Aktivitasis aksis Hipotalamus-hipofisis-adrenal baik pada ibu maupun janin, akibat stress pada ibu / janin
• Inflamasi desidua korioamnion / sistematik akibat infeksi asenden dari traktus genitourinaria
• Perdarahan desidua
• Peregangan uterus patologi
• Kelainan pada uterus / serviks
• Plasenta previa, solusio plasenta, hipertansi
• Ketuban pecah dini, kehamilan ganda.
3. Tanda dan Gejala
• Kontraksi yang berulang sedikitnya setiap 7 – 8 menit sekali, atau 2 – 3 kali dalam waktu 10 menit.
• Adanya pada punggung bawah (low back pain)
• Bercah perdarahan.
• Perasaan menekan daerah serviks.
• Pemeriksaan serviks menunjukkan telah terjadi pembukaan sediktnya 2 cm, dan penipisan 50 – 80 %.
• Presentasi janin rendah sampai mencapai spina ichiadika.
• Selaput ketuban pecah dapt merupakan tanda awal terjadinya persalinan preterm.
• Terjadi pada usia kehamilan 22 – 37 minggu.
4. Patofisiologi
• Lupa akan tanggal haid terakhir, karena sukar menetukan secara tepat saat ovulasi. Perhitungan usia kehamilan umumnya memakai rumus Naegele, tetapi selain pengaruh faktor diatas masih ada faktor siklus haid dan kesalahan perhitungan.
5. Komplikasi
• Kematian perinatal meningkat 3 kali (Hipoksia, Aspirasi mekonium).
• Berat Bayi Lahir Rendah.
• Distosia.
• Perdarahan post partum.
• Syok.
6. Penatalaksanaan
a. Pencegahan (agar tidak lahir )
 Pemberian tokolitik (Rahim tak berkontraksi)
 Betaminetik dsb.
 Pematangan paru-paru (menggunakan obat).
 Kortikosteroid.
b. Persalinan
 Persalinan (spontan & operasi)

 KEHAMILAN GANDA
1. Definisi
Kehamilan ganda atau hamil kembar adalah kehamilan dengan dua janin atau lebih.

2. Etiologi
a. Factor-faktor yang mempengaruhi: bangsa, umur dan paritas, sering mempengaruhi kehamilan kembar 2 telur.
b. Factor obat-obatan induksi ovulasi: profertil, clomid, dan hormone gonadotropin menyebabkan kehamilan dizigotik dan kembar lebih dari 2.
c. Factor keturunan.
d. Factor lain yang belum diketahui.
JENIS GAMELI
A. Gamili dizigotik = kembar 2 telur, heterolog, biovuler, dan fraternal,
Kedua telur bisa berasal dari:
• 1 ovarium dan dari 2 folicel de graff
• 1 ovarium dan 1 folikel de graff
• 1 dari ovarium kanan dan 1 lagi dari ovarium kiri.
B. Gamely monozigot = kembar 1 telur, homolog, uniovuler, identik,
Dapat terjadi karena:
• 1 telur dengan 2 inti, hambatan pada tingkat blastula
• Hambatan pada segmentasi
• Hambatan setelah amnion dibentuk, tetapi sebelum primitive streak
C. Conjoined twins, superfekundasi, dan superfetasi
Adalah kembar dimana janin melekat satu dengan yang lainnya. Misalnya torakofagus (dada dengan dada), abdominofagus (perlekatan kedua abdomen), kraniofagus (kedua kepala).
• Superfekundasi adalah pembuahan dua telur yang dikeluarkan pada ovulasi yang sama pada dua kali koitus yang dilakukan pada jarak waktu yang pendek.
• Superfetasi adalah kehamilan kedua yang terjadi setelah beberapa minggu atau bulan setelah kehamilan yang pertama.
PERTUMBUHAN JENIN KEMBAR
1. Berat badan satu janin kehamilan kembar rata-rata 1000 gram lebih ringan dari janin tunggal.
2. Berat badab baru lahir biasanya pad akembar 2 dibawah 2500 gram, triplet dibawah 2000gr, quadripet dibawah 1500gr, quintuplet dibawah 1000gr.
3. Berat badan masing-masing janin dari kehamilan kembar tidak sama, umumnya berselisih antara 50gr sampai 1000gr, dan karena pembagian sirkulasi darah tidak sama, maka yang satu lebih kurang tumbuh dari yang lainnya.
4. Pada kehamilan ganda monozigot:
• Pembuluh darah yang stau beranastomosis dengan janin yang lain, karena itu setelah bayi satu lahir tali pusat harus diikat untuk menghindari perdarahan.
• Karena itu janin yang satu dapat terganggu pertumbuhannya menjadi monstrum, seperti akardiakus dan kelainan lainnya.
• Dapat terjadi sindrom transfuse fetal: pada janin yang mendapat darah lebih banyak terjadi hidamnion, polisitemia, edema dan pertumbuhan yang baik. Sedangkan janin yang kedua terlihat kecil, anemis, dehidrasi, oligohidramnion dan mikrokardia karena kurang mendapat darah.
5. Kehamilan kembar dizigotik:
• Dapat terjadi satu janin meninggal dan yang satu tumbuh sampai cukup bulan.
• Janin yang mati bias direbsorbsi (kalau pada kehamilan muda), atau pad akehamilan yang agak tua, janin agak pipih yang disebut fetus papyraseus atau kompresus.

3. Tanda dan Gejala
Keluhan subjektif:
• Sesak nafas
• Sering kencing
• Gerak banyak
• Edema, varises
• Mual muntah, tensi tinggi

4. Patofisiologi
Kemungkinan pertama dibukikan dengan ditemukannya 21 korpora lutea pada kehamilan kembar. Pada fertilisasi invertro dapat pula trjadi kehamilan kembar, jika telur-telur yang diperoleh dapat dibuahi lebih dari satu dan jika semua embrio yang kemudian dimasukkan ke dalam rongga rahim ibu tumbuh berkembang lebih dari satu.
5. Komplikasi
• Hidramnion
• Prematuritas
• Kelainan letak
• Plasenta previa, solusio plasenta
• Monster fetus
6. Penanganan
Sikap bidan :
 pertolongan setempat ( persalinan pervagina)
• Anak pertama pervagina
• Anak kedua : spontan, ekstraksi forsep/ vakum
 Merujuk : Primer Sc
• Anak pertama lintang
• Distress janin
• Plasenta previa
• Prolapsus fenikulli
• Prolong labour

 KEHAMILAN RESIKO TINGGI
1. DEFINISI
Kehamilan dengan resiko tinggi adalah kehamilan yang memiliki resiko meninggalnya bayi, ibu atau melahirkan bayi yang cacat atau terjadi komplikasi kehmailan, yang lebih besar dari resiko pada wanita normal umumnya.
2. ETIOLOGI
• Ibu hamil berusia < 15 tahun atau > 35 tahun
• Riwayat kehamilan atau persalinan yang tidak baik
• TB • TD kurang / lebih
• Memiliki kelainan jantung, asma, DM
• Letak janin tidak normal
• Mengalami perdarahan
3. TANDA DAN GEJALA
• Perdarahan pervaginam
• Sakit kepala yang hebat
• Masalah penglihatan
• Bengkak pada muka atau tangan
• Nyeri abdomen yang hebat
• Bayi kurang bergerak seperti biasa


4. PATOFISIOLOGI
5. KOMPLIKASI
• Adapun bahaya yang dapat ditimbulkan akibat Ibu hamil dengan risiko tinggi adalah sebagai berikut :
- Bayi lahir belum cukup bulan.
- Bayi lahir dengan berat kahir rendah (BBLR).
- Keguguran (abortus).
- Persalinan tidak lancar / macet.
- Perdarahan sebelum dan sesudah persalinan.
- Janin mati dalam kandungan.
- Ibu hamil / bersalin meninggal dunia. Keracunan kehamilan / kejang-kejang.

6. PENATALAKSANAAN
Kehamilan risiko tinggi dapat dicegah jika gejalanya ditemukan sedini mungkin. Jika tidak segera dicegah, bayi lahir belum cukup bulan, lahir dengan berat yang rendah, keguguran atau abortus, persalinan yang tidak lancar, perdarahan sebelum dan sesudah persalinan, janin mati dalam kandungan, keracunan kehamilan, seperti kejang-kejang, dan sang ibu bisa meninggal.
Karena ada banyak faktor kehamilan risiko tinggi ini, yang pertama dilakukan adalah melihat atau mencari tahu apa faktor risikonya. Misalnya, faktornya adalah penyakit darah tinggi. Untuk mencegahnya, harus diobati dulu penyakit darah tingginya dan dijaga agar tidak berkembang lebih parah menjadi preeklamsi atau eklamsi.



KETUBAN PECAH DINI
1. Definisi
Ketuban pecah dini adlah pecahnya selaput ketuban sebelum adanya tanda-tanda persalinan
2. Etiologi
• Serviks inkompetens
• Polihidramnion
• Multiple pregnansi
• Malpresentasi
• Chorioamnionitis
• Kelemahan selaput ketuban
3. Tanda dan gejala
• History
• Nitrazine paper test / lakmus test
• Laboratorium
• Fern test
• Pemeriksaan speculum
• Dye injection
• Deteksi vernix
• Ultra sound
4. Patofisiologi
• Adanya hipermotilitas rahim yang sudah lama terjadi sebelum ketuban pecah. Penyakit- penyakit seperti pielonefritis, sistitis, dan vaginitis terdapat bersama- sama dengan hipermotilitas rahim.
• Selaput ketuban terlalu tipis.
• Infeksi ( amnionitis atau korioamnionitis).
• Multipara, malposisi, disproporsi, serviks inkompeten, dll.
• KPD artificial ( amniotomi ) dimana ketuban dipecahkan terlalu dini.
5. Komplikasi
Tergantung pada usia kehamilan.dapt terjadi infeksi meternal ataupun neonatal, persalinan premature, hipoksia karena kompresi tali pusat, deformitas janin, meningkatnya insiden SC atau gagalnya persalinan normal.
6. Penatalaksanaan
a. Usia kehamilan ≥36 minggu, lahirkan saja dengan induksi (rangsangan)
b. Usia kehamilan antara 34-36 minggu, jika tidak ada infeksi tunggu saja sampai aterm, jika ada infeksi lahirkan saja
c. Usia kehamilan antara 28-34 minggu, tunggu sampai 36 minggu, asal tidak ada infeksi.
d. Usia kehamilan ≤28 minggu, langsung lahirkan saja.

KELAINAN AIR KETUBAN
A. POLIHIDRAMNION
1. Definisi
Polihidramnion adalah suatu keadaan dimana jumlah air ketuban jauh lebih banyak dari normal, biasanya lebih dari 2 liter.
2. Etiologi
Tidak didapati kelainan pada epitel amnion yang dapat menyebabkan hipersekresi dari air ketuban. Secara logis dapat diterima mekanisme sbb :
• Produksi tetap biasa konsumsi kurang atau nihil sehingga terjadi hidramnion (urin janin meningkat)
• Produksi hebat atau meningkat(urin janin meningkat) konsumsi biasa hidramnion.

 Penyebab Foetal :
• Congenital anomaly
• Kelainan pada bayi
• Atreshia esophagus
• Monozigot twins
• Pembasaran plasenta
 Penyebab Maternal : DM, PE dan Odema generalisata.
3. Tanda dan Gejala
 Anamnesis:
• Perut lebih besar dan terasa lebih berat dari biasa.
• Nyeri perut Karena tegangnya uterus, mual dan muntah
• Edema pada tungkai, vulva, dinding perut.
• Pada proses akut, bias syok, berkeringat dingin dan sesak.
 Inspeksi:
• Kelihatan perut sangat buncit dan tegang, kulit perut berkilat atau retak-retak, dan umbilicus mendatar.
• Apabila akut ibu terlihat sesak (dispenoe) dan sianosis.
 Palpasi:
• Perut tegang dan nyeri karena terjadi edema pada dinding perut, vulva dan tungkai.
• Fundus uteri lebih tinggi dari tuanya kehamilan sesungguhnya.
• Bagian janin sukar dikenali karena banyaknya cairan.
• Pada letak kepala, kepala janin bias diraba, maka ballottement jelas sekali.
 Auskultasi:
• DJJ sukar terdengar, apabila terdengar halus sekali
 Rontgen foto abdomen:
• Nampak banyangan berselubung kabur karena banyaknya cairan, terkadang banyangan janin tidak jelas
• Foto rontgen pada hidramnion berguna untuk diagnostic dan untuk menentukan etiologi, seperti anomaly congenital (anensefalin / gemeli)
 Pemeriksaan dalam:
• Selaput ketuban teraba tegang dan menonjol walaupun diluar his.
4. Penatalaksanaan
• Acute Hydramnion: terminasi kehamilan
• Chronic hydramnion: terminasi apabila bayi sudah mati, dan expectative bila fetus masih baik.

B. Oligohydramnion
1. Definisi
Adalah kurangnya air ketuban dari 500 cc. reduksi air ketuban anhydramnion tidak ada lagi air ketuban.
2. Etiologi
• Insuficiensi plasenta
• Malformasi urinary tract
3. Tanda dan Gejala
4. Patofisiologi
5. Komplikasi
• Pulmonary hypoplasia
• Pertumbuhan abnormal fetal
• Managemen
6. Penatalaksanaan

MATERNAL MORTALITY RATE (MMR)
1. Definisi
Adalah angka kematian ibu dalam per seratus ribu kelahiran, hidup yang berhubungan dengan kehamilan, persalinan atau nifas.
2. Etiologi
• Perdarahan
• Infeksi
• Penyakit kronis
• Surgical disorders
3. Komplikasi
• Maternal age
• Paritas
• Bad obstetric history
• Riwaya SC
• HPP
• Multiple pregnancy
• Malpresentasi dan malposisi
• Riwayat penyakit kronis







BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Pada ibu hamil dan ibu bersalin dapat terjadi penyakit-penyakit yang telah dijelaskan diatas, banyak penyebab-penyebab dari penyakit tersebut belum diketahui. Jadi agar dapat mengurangi AKI dan AKB maka bidan harus benar-benar profesional dalam menangani keluhan-keluhan yang dialami oleh ibu hamil dan ibu bersalin.

B. Saran
Sebaiknya ibu hamil sering-sering melakukan pemeriksaan agar mengtahui komplikasi dari kehamilan ibu tersebut. Dan apabila sudah diketahui segera ditangani jangan dibiarkan agar ibu dan janin bisa selamat.
Bagi bidan berikan ibu hamil pemeriksaan yang sesuai kebutuhan yang diperlukan ibu hail tersebut, dan sebaiknya bidan mengtahui komplikasi apa yang terjadi pada ibu hamil tesebut dan berikan penanganan sesegera mungkin agar dapat menyelamatkan ibu dan bayinya.





KATA PENGANTAR
Dengan memanjatkan puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas Makalah dengan judul “RESUMAN OBSTETRI”.
Pada kesempatan ini pekenankanlah penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1. Prof. dr. Adjar Wibowo, SpOG (K)
2. Rekan-rekan mahasiswi Akademi Kebidanan Abdi Persada Banjarmasin, serta pihak-pihak lainnya yang telah memberikan bantuan baik secara langsung maupun tidak langsung dalam penyusunan makalah ini.
Makalah ini penulis buat berdasarkan beberapa referensi.
Penulis menyadari bahwa dalam makalah ini tidak lepas dari kekurangan baik secara penyaajian data maupun mengenai isinya. Untuk itu dengan senang hati penulis menerima segala kritik dan saran yang bersifat membangun dari semua pihak.

Banjarmasin, 27 Mei 2010

Penulis


DAFTAR PUSTAKA
- Wibowo, Adjar. 2010. Materi Perkuliahan. Banjarmasin.
- Prawirohardjo, Sarwono. 2005. Ilmu Kebidanan. Jakarta. Yayasan Bina Pustaka.
- Mochtar, Rustam. 1998. Sinopsis Obstetri. Jakarta. EGC.
- Rabe, Thomas. 2002. Buku Saku Ilmu Kebidanan. Jakarta. Hipokrates.
- Nugraheny, Esti. 2009. Asuhan Kebidanan Pathologi. Yogyakarta. Pustaka Rihama.
- Saifiddin, Abdul Bari, dkk. 2002. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal Dan Neonatal. Jakarta. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.
- www. Google.com

Posting Komentar

0 Komentar