06 February, 2008

INTELEGENSI

BAB I

PENDAHULUAN

Intelegensi dan keberhasilan dalam pendidikan adalah dua hal yang saling keterkaitan. Di mana biasanya anak yang memiliki intelegensi yang tinggi dia akan memiliki prestasi yang membanggakan di kelasnya, dan dengan prestasi yang dimilikinya ia akan lebih mudah meraih keberhasilan.

Namun perlu ditekankan bahwa intelegensi itu bukanlah IQ di mana kita sering salah tafsirkan. Sebenarnya intelegensi itu menurut “Claparde dan Stern” adalah kemampuan untuk menyesuaikan diri secara mental terhadap situasi dan kondisi baru. Berbagai macam tes telah dilakukan oleh para ahli untuk mengetahui tingkat intelegensi seseorang. Banyak faktor yang dapat mempengaruhi tingkat intelegensi seseorang. Oleh karena itu banyak hal atau faktor yang harus kita perhatikan supaya intelegensi yang kita miliki bisa meningkat.

Setiap orang pasti berkeinginan supaya dirinya dapat berhasil, baik berhasil di kala sekolah maupun di saat keluar dari sekolah nantinya ia dapat berhasil dalam meniti karier dan kehidupannya.

Sama halnya dengan intelegensi, keberhasilan pun memiliki beberapa faktor yang harus dijalani supaya kita dapat meraihnya. Dalam makalah ini kami akan memaparkan hal-hal yang berkaitan erat dengan keberhasilan tersebut, seperti indikator dan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi seseorang untuk mencapai keberhasilan di dalam pendidikan. Semua hal tersebut akan dipaparkan lebih rinci lagi di dalam bab selanjutnya.

BAB II

INTELEGENSI

A. Definisi dan Ciri-ciri Intelegensi

Claparde dan Stern mengatakan bahwa intelegensi adalah kemampuan untuk menyesuaikan diri secara mental terhadap situasi atau kondisi baru.

K. Buhler mengatakan bahwa intelegensi adalah perbuatan yang disertai dengan pemahaman atau pengertian.

David Wechster (1986). Definisinya mengenai intelegensi mula-mula sebagai kapasitas untuk mengerti ungkapan dan kemauan akal budi untuk mengatasi tantangan-tantangannya. Namun di lain kesempatan ia mengatakan bahwa intelegensi adalah kemampuan untuk bertindak secara terarah, berfikir secara rasional dan menghadapi lingkungannya secara efektif.[1]

William Stern mengemukakan batasan sebagai berikut: intelegensi ialah kesanggupan untuk menyesuaikan diri kepada kebutuhan baru, dengan menggunakan alat-alat berfikir yang sesuai dengan tujuannya.

William Stern berpendapat bahwa intelegensi sebagian besar tergantung dengan dasar dan turunan, pendidikan atau lingkungan tidak begitu berpengaruh kepada intelegensi seseorang.

Dari batasan yang dikemukakan di atas, dapat kita ketahui bahwa:

a. Intelegensi itu ialah faktor total berbagai macam daya jiwa erat bersangkutan di dalamnya (ingatan, fantasi, penasaran, perhatian, minat dan sebagainya juga mempengaruhi intelegensi seseorang).

b. Kita hanya dapat mengetahui intelegensi dari tingkah laku atau perbuatannya yang tampak. Intelegensi hanya dapat kita ketahui dengan cara tidak langsung melalui “kelakuan intelegensinya”.

c. Bagi suatu perbuatan intelegensi bukan hanya kemapuan yang dibawa sejak lahir saja, yang penting faktor-faktor lingkungan dan pendidikan pun memegang peranan.

d. Bahwa manusia itu dalam kehidupannya senantiasa dapat menentukan tujuan-tujuan yang baru, dapat memikirkan dan menggunakan cara-cara untuk mewujudkan dan mencapai tujuan itu.

Ciri-ciri intelegensi yaitu :

1. Intelegensi merupakan suatu kemampuan mental yang melibatkan proses berfikir secara rasional (intelegensi dapat diamati secara langsung).

2. Intelegensi tercermin dari tindakan yang terarah pada penyesuaian diri terhadap lingkungan dan pemecahan masalah yang timbul daripadanya.[2]

Teori yang cukup banyak dianut adalah bahwa intelegensi terdiri dari suatu faktor G (General faktor) dengan berbagai faktor-faktor S (Specifik Faktor). Faktor G bukanlah sekedar penjumlahan dari faktor-faktor S. Masing-masing merupakan suatu kesatuan yang memiliki kualitas sendiri.

1. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Intelegensi [3]

a. Pengaruh faktor bawaan

Banyak penelitian yang menunjukkan bahwa individu-individu yang berasal dari suatu keluarga, atau bersanak saudara, nilai dalam tes IQ mereka berkolerasi tinggi ( + 0,50 ), orang yang kembar ( + 0,90 ) yang tidak bersanak saudara ( + 0,20 ), anak yang diadopsi korelasi dengan orang tua angkatnya ( + 0,10 - + 0,20 ).

b. Pengaruh faktor lingkungan [4]

Perkembangan anak sangat dipengaruhi oleh gizi yang dikonsumsi. Oleh karena itu ada hubungan antara pemberian makanan bergizi dengan intelegensi seseorang. Pemberian makanan bergizi ini merupakan salah satu pengaruh lingkungan yang amat penting selain guru, rangsangan-rangsangan yang bersifat kognitif emosional dari lingkungan juga memegang peranan yang amat penting, seperti pendidikan, latihan berbagai keterampilan, dan lain-lain (khususnya pada masa-masa peka).

c. Stabilitas intelegensi dan IQ [5]

Intelegensi bukanlah IQ. Intelegensi merupakan suatu konsep umum tentang kemampuan individu, sedang IQ hanyalah hasil dari suatu tes intelegensi itu (yang notabene hanya mengukur sebagai kelompok dari intelegensi). Stabilitas inyelegensi tergantung perkembangan organik otak.

d. Pengaruh faktor kematangan

Tiap organ dalam tubuh manusia mengalami pertumbuhan dan perkembangan. Tiap organ (fisik maupun psikis) dapat dikatakan telah matang jika ia telah mencapai kesanggupan menjalankan fungsinya.

e. Pengaruh faktor pembentukan

Pembentukan ialah segala keadaan di luar diri seseorang yang mempengaruhi perkembangan intelegensi.

f. Minat dan pembawaan yang khas

Minat mengarahkan perbuatan kepada suatu tujuan dan merupakan dorongan bagi perbuatan itu. Dalam diri manusia terdapat dorongan-dorongan (motif-motif) yang mendorong manusia untuk berinteraksi dengan dunia luar.

g. Kebebasan

Kebebasan berarti bahwa manusia itu dapat memilih metode-metode yang tertentu dalam memecahkan masalah-masalah. Manusia mempunyai kebebasan memilih metode, juga bebas dalam memilih masalah sesuai dengan kebutuhannya.

Semua faktor tersebut di atas bersangkutan satu sama lain. Untuk menentukan intelegensi atau tidaknya seorang anak, kita tidak dapat hanya berpedoman kepada salah satu faktor tersebut, karena intelegensi adalah faktor total. Keseluruhan pribadi turut serta menentukan dalam perbuatan intelegensi seseorang.

2. Intelegensi dan IQ [6]

IQ adalah skor yang diperoleh dari sebuah alat tes kecerdasan IQ (Intelegence Quotient) hanya memberikan sedikit indikasi mengenai taraf kecerdasan seseorang dan tidak menggambarkan kecerdasan seseorang secara keseluruhan.[7] Atau dengan kata lain, IQ menunjukkan ukuran atau taraf kemampuan intelegensi/kecerdasan seseorang yang ditentukan berdasarkan hasil test intelegensi. Sehingga istilah intelegensi tidak dapat disamakan artinya dengan IQ.[8]

Skor IQ mula-mula diperhitungkan dengan membandingkan umur mental (Mental Age atau MA) dengan umur kronolog (Chronological Age atau CA), skor ini kemudian dikalikan 100 dan dipakai sebagai dasar penghitungan IQ.

MA

IQ = x 100

CA

Namun kemudian timbul permasalahan karena MA akan mengalami stograsi dan penurunan pada waktu itu, tetapi CA terus bertambah. Masalah ini kemudian diatasi dengan membandingkan skor seseorang dengan skor orang lain dalam kelompok umur yang sama. Cara ini disebut “perhitungan IQ berdasarkan norma dalam kelompok (Within Group Normal) dan hasilnya adalah IQ penyimpangan atau deviation IQ.

3. Pengukuran Intelegensi [9]

a) Tes Binet Simon

b) Tes Stanford Binet

c) Teori Faktor-faktor G dan S

d) Teori Multifaktor

e) Kognisi; proses kognitif

f) Tes Intelegensi Klasikal

4. Validitas dan Reliabilitas Tes Intelegensi[10]

Test intelegensi kebanyakan menggunakan prestasi sekolah sebagai promotor atau kriteria utamanya. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa tes intelegensi memang mempunyai korelasi yang amat tinggi dengan prestasi sekolah. Jadi dalam hal ini tes tersebut valid.

Pertanyaan validitas, dan khususnya reliabilitas tes intelegensi menyangkut pada pengaruh budaya. Bila tes dapat dibuat sama sekali tidak dipengaruhi oleh budaya (Culture Fair atau Culture Free) maka tes tersebut dapat diharapkan reliabel (dapat dipakai di mana saja).

5. Intelegensi dan Bakat

Kemampuan-kemampuan yang spesifik memberikan pada individu suatu kondisi yang memungkinkan tercapainya pengetahuan, kecakapan, atau keterampilan itu setelah melalui suatu latihan. Inilah yang disebut bakat atau aptitude.

Alat yang digunakan untuk menyingkap kemampuan khusus ini disebut aptitude tes atau tes bakat.

6. Intelegensi dan Kreativitas[11]

Kreativitas merupakan salah satu ciri dari prilaku yang intelegen, karena kretivitas yang merupakan manifestasi dari suatu proses kognitif, meskipun demikian, hubungan antara kreativitas dan intelegensi tidak selalu menunjukkan bukti-bukti yang memuaskan, tetapi lebih tinggi lagi, ternyata tidak ditemukan adanya hubungan antara IQ dengan tingkat kreativitas.

Di sini secara garis besar akan diketemukan berbagai konsepsi mengenai intelegensi itu, yang merupakan jawaban bagi pertanyaan “Apakah Intelegensi itu ?”

Konsepsi-konsepsi itu pada dasarnya digolongkan menjadi 5 kelompok yaitu :

1) Konsepsi-konsepsi yang bersifat spekulatif

2) Konsepsi-konsepsi yang bersifat pragmatis

3) Konsepsi-konsepsi yang didasarkan atas analisis faktor, yang kiranya dapat kita sebut konsepsi-konsepsi faktor.

4) Konsepsi-konsepsi yang bersifat operasional, dan

5) Konsepsi-konsepsi yang didasarkan atas analisis fungsional, yang kiranya dapat kita sebut konsepsi-konsepsi fungsional.[12]

B. Pengukuran Intelegensi Umum

1. Latar Belakang Tes Intelegensi

E. Seguin (1812 – 1880) disebut sebagai pionir dalam bidang tes intelegensi yang mengembangkan sebuah papan yang berbentuk sederhana untuk menegakkan diagnosis keterbelakangan mental. Kemudian usaha ini distandanisir oleh Henry H. Goddard (1906). E. Seguin digolongkan kepada salah seorang yang mengkhususkan diri pada pendidikan anak terkebelakang dan disebut juga bapak dari tes performansi.

Joseph Jasnow (1863 - 1944) adalah merupakan salah satu dari beberapa orang yang pertama kali mengembangkan daftar norma-norma dalam pengukuran psikologis.

G.C. Ferrari (1896) mempublikasikan tes yang bisa dipakai untuk mendiagnosis keterbelakangan mental.

August Oehr mengadakan penelitian inhmetasi antara berbagai fungsi psikologis (h. 14).

E. Kraepelin, seorang psikotes menyokong usaha ini, empat macam tes yang dikembangkan, di antaranya yaitu:

1) Koordinasi motorik

2) Asosiasi kata-kata

3) Fungsi persepsi

4) Ingatan

Dan E. Kraepelin juga mengembangkan tes intelegensi yang berkaiatan dengan tes penataran aritmatik dan kalkulasi sederhana tahun 1895.

Di samping itu berkembang pula tes yang dipakai untuk kelompok (group). Hal ini diawali dengan tes verbal untuk seleksi tentara (wajib militer) yang disebut dengan Army Alpha. Untuk yang buta huruf atau tidak bisa berbicara bahasa Inggris dipergunakan Army Beta sekitar tahun 1917 – 1918, tes ini dipakai hampir dua juta orang.[13] (h. 15).

2. Jenis-jenis tes intelegensi (h. 121)

Berdasarkan penataannya ada beberapa jenis tes intelegensi, yaitu :

1) Tes Intelegensi individual, beberapa di antaranya:

a. Stanford – Binet Intelegence Scale.

b. Wechster – Bellevue Intelegence Scale (WBIS)

c. Wechster – Intelegence Scale For Children (WISC)

d. Wechster – Ault Intelegence Scale (WAIS)

e. Wechster Preschool and Prymary Scale of Intelegence (WPPSI)

2) Tes Intelegensi kelompok, beberapa di antaranya:

a. Pintner Cunningham Prymary Test

b. The California Test of Mental Makurity

c. The Henmon – Nelson Test Mental Ability

d. Otis – Lennon Mental Ability Test (h. 21)

e. Progassive Matrices

3) Tes Intellegensi dengan tindakan perbuatan

Untuk tujuan program layanan bimbingan di sekolah yang akan dibahas adalah tes intelegensi kelompok berupa:

a. The California Test of Mental Maturity (CTMM)

b. The Henmon – Nelson Test Mental Ability

c. Otis – Lennon Mental Ability Test, and

d. Progassive Matrices.[14] (22)

C. Intelegensi Jenis Lain

Dewasa ini kebanyakn orang masih memandang bakat sebagai warisan modal kecerdasan. Seorang rekan dari Selandia Baru berkata bahwa lembaga pendidikan kita tidak dapat “mengalahkan alam”, dengan kata lain, lembaga lain lembaga pendidikan itu tidak dapat mengangkat anak lebih tinggi daripada “anak-tangga bakat” yang paling atas. Kebanyakan ahli pendidikan memandang bakat sebagai kemampuan untuk menyerap pengetahuan yang disampaikan oleh sekolah.

Sementara orang mulai bertanya mengenai nasib mereka yang “tidak cerdas” yang diberi definisi sebagai orang yang kemapuan skolastiknya rendah dan yang tertinggal makin jauh dibelakang apabila bahan pelajarannya semakin banyak dan bahan ajarannya semakin panjang.[15] (hal 61)

Bakat dari kelas sosial menurut Jensen Arah ahli pikir Amerika Serikat telah mulai menjauh dari teori lingkungan, suatu ahli tim peneliti yang diketuai oleh Arthur Jensen. Seorang psikolog Universitas California di Berkeley telah menyelami masalah perdebatan intelegensi antar golongan, umapamanya golongan sosial dan ras.

Jensen kemudian mengajukan pertanyaan yang penuh dengan dinamit politik dan emosi, apakah benar ada perdebatan bakat yang terwariskan antara golongan tertentu, dan kalau memang ada, seberapa jauh perbedaan itu ada ? Ia mengajukan pertanyaan ini karena sesuatu sebab, jika suatu masyarakat memberikan kesempatan lebih banyak kepada masing-masing warganya tidak hanya untuk memperoleh pendidikan tetapi juga untuk meraih kedudukan sosial sesuai dengan kemampuannya, apakah kita seharusnya tidak juga beranggapan bahwa perbedaan keturunan akhirnya akan terasa di dalam pekerjaan dan kehidupan dan mobilitas sosial seseorang ? Ia menujukkan tiga sikon, yang meskipun tidak mengiyakan pertanyaannya namun dapat menimbulkan kerisauan pada mereka yang ingin menyangkalnya. (hal. 61 – 62).

Pertama-tama 30 % dari perbedaan perorangan dalam skor tes itu – seperti yang tercantum pada data standardisasi, yang diterbitkan oleh Terman dan Merrel – disebabkan perbedaan latar belakang sosial – ekonomi.

Kedua, kasus mengenai apa yang disebut Francis Galton “regresi” ke arah angka rata-rata menunjukkan bahwa perbedaan bakat antara golongan sosial ekonomi mungkin ada unsur keturunannya.

Ketiga, Jensen menyatakan bahwa anak-anak asuh yang di tes setelah lama hidup di rumah asuh mereka menunjukkan IQ yang berkolerasi dengan peringkat kedudukan sosial – ekonomi orang tua kandung mereka.[16] (hal. 63)

Kritik Terhadap Tesis Jensen

Suatu studi singkat mengenai tesis Jensen itu harus diadakan, hal ini bisa dilihat melalui beberapa argumentasi seperti

Yang pertama bahwa faktor keturunan menentukan perbedaan antar golongan sosial – ekonomi dan bahw 70 – 80 % dari perbedaan perorangan adalah akibat keturunan – seperti yang disimpulkannya dari penelitian terhadap dua anak kembar. Andaikata itu benar, faktor keturunan itu seharusnya menyebabkan lebih banyak variasi dalam prestasi sekolah daripada semua faktor lingkungan.

Argumentasi yang kedua, yaitu yang menyangkut legiesi sepintas – kilas nampaknya lebih seram. Anak-anak dari orang tua kaya rata-rata merosot IQ-nya dibandingkan dengan anak-anak yang kurang mampu. Tetapi di sini perbandingan itu menyangkut dua generasi, yang dalam banyak hal berasal dari latar belakang sosial yang jauh berbeda satu sama lain. (hal 65)

Argumentasi yang ketiga, yang menyangkut kesamaan antara anak-anak asuh dan orang tua kandung, walaupun hubungan mereka satu sama lain hampir sama sekali terputus. Kedengarannya juga meyakinkan, terutama apabila dikatakan bahwa korelasi yang sama juga berlaku bagi anak yang dibesarkan sendiri oleh orang tua kandung mereka, lepas dari pernyataan bahwa korelasi itu tidak lebih jauh di bawah 4 – 5 % dari perbedaan-perbedaan yang terdapat di antara perorangan, maka golongan sosial ekonomi merupakan tolak ukur yang kurang mantap terhadap lingkungan apalagi bila kita ingin meneliti seberapa jauh dapat dijelaskan adanya variasi individual. Lagi pula hal yang sama itu juga berlaku bagi anak asuh maupun anak kemabar pungut, sehingga kedua macam lingkungan keluarga itu cenderung berkorelasi satu sama lain. [17] (65 – 66)

BAB III

KEBERHASILAN PENDIDIKAN

A. Pengertian Keberhasilan

Suatu proses belajar mengajar tentang suatu bahan pelajaran dinyatakan berhasil apabila hasilnya memenuhi tujuan instruksional khusus (TIK) dari bahan-bahan tersebut.[18]

Untuk mengetahui tercapai tidaknya TIK, guru perlu mengadakan tes formatif setiap selesai menyajikan satu bahan kepada siswa. Tujuannya untuk mengetahui sejauh mana siswa telah menguasai TIK yang ingin dicapai.

B. Indikator Keberhasilan

a. Daya serap terhadap bahan pengajaran yang diajarkan mencapai prestasi tinggi, baik secara individual maupun kelompok.

b. Perilaku yang digariskan dalam TIK telah dicapai siswa, baik secara individual maupun kelompok. Namun daya serap lebih banyak dijadikan indikator untuk menjadi tolak ukur keberhasilan.[19]

C. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Belajar

Faktor-faktor yang mempengaruhi kegiatan belajar seseorang bisa dibagi 2 yaitu :

a. Faktor yang ada pada diri organisme itu sendiri yang kita sebut faktor individual.

b. Faktor yang ada di luar individu yang kita sebut faktor sosial. Yang termasuk faktor itu antara lain :

1) Kematangan/pertumbuhan

Mengajarkan sesuatu yang baru dapat berhasil jika taraf pertumbuhan pribadi telah memungkinkannya ; potensi-potensi jasmani atau rohaninya telah matang untuk itu.

2) Kecerdasan/intelegensi

Di samping pematangan, dapat tidaknya seseorang mempelajari sesuatu dengan berhasil baik ditentukan /dipengaruhi pula oleh taraf kecerdasannya.

3) Latihan dan ulangan

Karena terlatih, karena seringkali mengulangi sesuatu, maka kecakapan dan pengetahuan yang dimilikinya dapat menjadi meningkat dan mendalam.

4) Motivasi

Motif merupakan pendorong bagi suatu organisme untuk melakukan sesuatu.

5) Sifat-sifat pribadi seseorang

Sifat-sifat keperibadian yang ada pada seseorang itu sedikit banyaknya turut pula mempengaruhi sampai di manakah hasil belajarnya dapat dicapai (termasuk hal ini adalah faktor fisik kesehatan dan kondisi badan).

6) Keadaan keluarga

Termasuk dalam keluarga ini ada tidaknya atau tersedia tidaknya fasilitas-fasilitas yang diperlukan dalam belajar turut memegang peranan yang penting .

7) Guru dan cara mengajar

Terutama dalam belajar di lembaga formal, faktor guru dan cara mengajarnya merupakan faktor yang menentukan bagaimana hasil belajar yang akan dicapai anak didiknya.

8) Alat-alat pelajaran

Alat-alat pengajaran yang tersedia lengkap ditambah cara mengajar yang baik dan guru-gurunya akan mempermudah dan mempercepat proses pembelajaran bagi anak didik.

9) Lingkungan dan kesempatan

Pengaruh lingkungan yang buruk dan negatif serta faktor-faktor lain terjadi di luar kemampuannya. Faktor lingkungan dan kesempatan ini lebih-lebih lagi berlaku bagi cara belajar pada orang-orang dewasa.[20]

D. Penilaian Keberhasilan

Untuk mengukur dan mengevaluasi tingkat keberhasilan belajar tersebut dapat dilakukan melalui tes prestasi belajar. berdasarkan tujuan dan ruang lingkupnya tes prestasi belajar dapat digolongkan ke dalam beberapa jenis yaitu :

a. Tes formatif

Penilaian ini digunakan untuk mengukur satu atau beberapa pokok bahasan tertentu dan bertujuan untuk memperoleh gambaran tentang daya serap siswa terhadap pokok bahasan tersebut. Fungsinya untuk memperbaiki proses belajar mengajar bahan tertentu dalam waktu tertentu.

b. Tes subsumatif

Tes ini meliputi sejumlah bahan pengajaran tertentu yang telah diajarkan dalam waktu tertentu. Tujuannya adalah untuk memperoleh gambaran daya serap siswa untuk meningkatkan prestasi belajar siswa.

c. Tes sumatif

Tes ini diadakan untuk mengukur daya serap siswa terhadap bahan pokok-pokok bahasan yang telah diajarkan selama satu semester, satu atau dua tahun pelajaran. Tujuannya adalah untuk menetapkan tingkat atau taraf keberhasilan belajar siswa dalam suatu priode belajar tertentu.[21]

E. Tingkat Keberhasilan

Setiap proses belajar mengajar selalu menghasilkan hasil belajar. Namun, sampai ditingkat manakah prestasi (hasil) belajar itu bisa dicapai inilah yang menjadi masalahnya. Sehubungan dengan ini keberhasilan dalam proses belajar mengajar itu dibagi atas beberapa tingkatan atau taraf, yakni:

1. Istimewa/maksimal

2. Baik sekali/optimal

3. Baik/minimal

4. Kurang

:

:

:

:

Apabila seluruh bahan pelajaran yang diajarkan itu dapat dikuasai oleh siswa.

Apabila sebagian besar (76 % – 99 %) bahan pelajaran yang diatarkan dapat dikuasai oleh siswa.

Apabila bahan pelajarn yang diajarkan hanya 60 % - 75 % saja dikuasai oleh siswa.

Apabila bahan pelajaran yang diajarkan kurang dari 60 % dikuasai oleh siswa.[22]

F. Program Perbaikan

Pengukuran tentang taraf atau tingkat keberhasilan proses belajar mengajar ini ternyata berperan penting, karena itu pengukurannya harus betul-betul shahih (valid), handal (reliabel), dan tugas (objective). Hal ini mungkin tercapai bila alat ukurnya disusun berdasarkan kaidah, aturan, hukum atau ketentuan penyusulan butir tes.

Pengajaran perbaikan biasanya mengandung kegiatan-kegiatan sebagai berikut:

a. Mengulang pokok bahasan seluruhnya

b. Mengutang bagian dari pokok bahasan yang hendak dikuasai.

c. Memecahkan masalah atau menyelesaikan soal-soal bersama-sama.

d. Memberikan tugas-tugas khusus.[23]

G. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Keberhasilan

Faktor-faktor yang bisa mempengaruhi berhasil tidaknya suatu pendidikan adalah:

a. Tujuan

Adalah pedoman sekaligus sebagai sasaran yang akan dicapai dalam kegiatan belajar mengajar. Tujuan Pembelajaran Khusus (TPK) adalah wakil dari Tujuan Pembelajaran Umum (TPU), maka pembuatan TPK harus berpedoman pada itu. Agar tidak dapat mewakili terhadap TPU perlu dipikirkan beberapa petunjuk (indikator) suatu TPU.

b. Guru

Guru adalah orang yang menciptakan lingkungan belajar yang kepentingan belajar anak didik. Latar belakang pendidikan dan pengalaman mengajar adalah dua aspek yang mempengaruhi kompetensi seorang guru dibidang pendidikan dan pengajaran.

c. Anak Didik

Adalah orang yang dengan sengaja datang ke sekolah. Daya serap otak bermacam-macam, karena itu dikenalah tingkat keberhasilan yang maksimal (istimewa), optimal (baik sekali), minimal (baik) dan kurang untuk setiap barang yang dikuasainya. Dengan demikian, dapat diyakini bahwa anak didik adalah unsur manusiawi yang mempengaruhi kegiatan belajar mengajar berikut hasil dari kegiatan itu, yaitu keberhasilan belajar mengajar.

d. Kegiatan Pengajian

Pola umum kegiatan pengajian adalah terjadinya interaksi antara guru dengan anak didik dengan bahan sebagai perantaranya.

e. Bahan dan Alat Evaluasi

Bahan evaluasi adalah suatu bahan yang terdapat di dalam kurikulum yang sudah oleh anak didik guna kepentingan ulangan.

Alat-alat evaluasi yang umunya digunakan tidak hanya benar-salah (true – false) dan pilihan ganda (multiple – choice), tapi juga menjodohkan (matching), melengkapi (Completion), dan Essay.

f. Suasana Evaluasi

Sikap yang merugikan pelaksanaan evaluasi dari seorang pengawas adalah membiarkan anak didik melakukan hubungan kerjasama di antara anak didik, lebih merugikan lagi adalah sikap pengawas yang dengan sengaja menyuruh anak didik membuka buka catatan untuk mengatasi ketidak berdayaan anak didik dalam menjawab item-item sosial. Dampak dikemudian hari dari sikap pengawas yang demikian itu adalah mengakibatkan anak didik kemungkinan besar malas belajar dan kurang memperhatikan penjelasan guru ketika belajar mengajar berlangsung. [24]

BAB IV

PENUTUP

KESIMPULAN

1. Intelegensi adalah faktor total, berbagai macam daya jiwa erat bersangkutan di dalamnya seperti ingatan, fantasi, perasaan, perhatian, minat dan sebagainya juga berpengaruh terhadapa intelegensi seseorang. Intelegensi adalah kemampuan untuk menyesuaikan diri secara mental terhadap situasi atau kondisi baru serta perbuatan yang disertai dengan pemahaman atau pengertian.

2. Ciri-ciri intelegensi yaitu : merupakan suatu kemampuan mental yang melibatkan proses berpikir secara rasional, tercermin dari tindakan yang terarah pada penyesuaian diri terhadap lingkungan dan pemecahan masalah yang tombul daripadanya.

3. Faktor-faktor yang mempengaruhi intelegensi: pengaruh faktor bawaan, pengaruh faktor lingkungan, stabilitas intelegensi dan IQ, pengaruh faktor kematangan, pengaruh faktor pembentukan, minat dan pembawaan yang khas, kebebasan.

4. keberhasilan adalah suatu proses belajar mengajar tentang suatu bahan pelajaran dinyatakan berhasil apabila hasilnya memenuhi tujuan instruksional khusus (TIK) dari bahan-bahan tersebut.

5. Faktor-faktor yang mempengaruhi belajar ada 2, yaitu : faktor yang ada pada diri organisme itu sendiri, dan faktor yang ada di luar individu yang kita sebut faktor sosial.

6. Penilaian keberhasilan bisa dilakukan melalui beberapa macam tes prestasi belajar seperti: tes formatif, tes subsumatif, dan tes sumatif.

7. Keberhasilan dalam proses belajar mengajar dapat digolongkan atas beberapa tingkatan, yaitu: istimewa/maksimal, baik sekali/optimal, baik/minimal, dan kurang.

8. Faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan terdiri dari : tujuan, guru, anak didik, kegiatan pengajaran, bahan dan alat evaluasi, suasana evaluasi.

Daftar Pustaka

Djamarah, Syaiful Bahri dan Drs. Aswan Zain. 1995, Strategi Belajar Mengajar, Jakarta: Rineka Cipta.

Husen, Torsten. 1988, Masyarakat Belajar, Jakarta: Rajawali Pers.

Purwanto, M.Ngalim. 1990, Psikologi Pendidikan, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Sabri, M. Alisuf. 1996, Psikologi Pendidikan, Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya.

Slameto, Drs. 1995, Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya, Jakarta: PT. Rineka Cipta.

Sukardi, Dewa Ketut. 1988, Analisis Tes Psikologi, Jakarta: Rineka Cipta.

Suryabrata, Sumadi. 1984, Psikologi Pendidikan, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.



[1] Drs. Irwanto dkk, Psikologi Umum (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 1994) h. 166

[2] Ibid.Psikologi Umum. h. 167

[3] Ibid.Psikologi Umum. h. 168

[4] Ibid.Psikologi Umum. h. 169

[5] Ibid. Psikologi Umum. h. 171

[6] Ibid. Psikologi Umum. h. 172

[7] Drs. H.M. Alisuf Sabri, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 1996) h. 117

[8] Op. Cit. PsikologiUmum. h. 172

[9] Ibid. Psikologi Umum. h. 174

[10] Ibid. Psikologi Umum. h. 180

[11] Ibid. Psikologi Umum. h. 183

[12] Sumadi Suryabrata, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada) h. 128

[13] Drs. Dewa Ketut Sukardi, Analisis Tes Psikologi. (Jakarta: Rineka Cipta) h. 14 - 15

[14] Ibid. Analisis Tes Psikologi. h. 21 - 22

[15] Torsten Husen, Masyarakat Belajar, (Jakarta: Rajawali Pers) h. 60 - 61

[16] Ibid. Masyarakat Belajar, h. 61 - 63

[17] Ibid. Masyarakat Belajar. h. 64 - 66

[18] Drs. Syaiful Bahri Djamarah dan Drs. Aswan Zain, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: Rineka Cipta) h. 119

[19] Ibid. Strategi Belajar Mengajar. h. 120

[20] Drs. M. Tugalim Purwanto MP, Psikologi Pendidikan, (Bandung: Remaja Rosdakarya) h. 102 - 106

[21] Op. Cit. Strategi Balajar Mengajar. h. 120

[22] Ibid. Strategi Belajar Mengajar. h. 121 – 122.

[23] Loc. Cit. Strategi Belajar Mengajar. h. 122

[24] Ibid, Strategi Balajar Mengajar, h. 123 - 134

2 komentar:

kardoba said...

terimakasih sangat membantu

amii ^^ said...

baguusss bangettt!!!
sangat2 membantu sekaliii . . .^^
hihiiii . . .

Post a Comment