Pancasila - Ideologi

BAB I

PENDAHULUAN

Setiap manusia mempunyai keinginan untuk mempertahankan hidup dan mengejar kehidupan yang lebih baik. Ini merupakan naluri yang paling kuat dalam diri manusia. Dan seperti yang di isyaratkan oleh ketetapan MPR No. II / MPR / 1978, maka pancasila yang bulat dan utuh itu memberikan keyakinan kepada rakyat dan bangsa Indonesia bahwa kebahagiaan hidup akan tercapai apabila di dasarkan atas keselarasan dan keseimbangan baik dalam hidup manusia dengan masyarakat, dalam hubungan manusia dengan alam, dalam hubungan bangsa dengan bangsa, dalam hubungan manusia dengan Tuhannya, maupun dalam mengejar kemajuan lahiriah dan kebahagiaan rohaniah.

Pentingnya pandangan hidup pancasila sebagai landasan hidup bernegara harus benar – benar di pegang kuat oleh setiap penduduk Indonesia, karena pengamalan pancasila tidak lain bertujuan untuk mewujudkan kehidupan pribadi dan kehidupan bersama yang kita cita – citakan. Kehidupan yang kita anggap baik itulah tujuan akhir dari pembangunan bangsa dan negara kita.

Dalam makalah ini kami akan membahas pentingnya pandangan hidup pancasila sebagai landasan hidup bernegara dan apa itu pancasila.

BAB II

PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN.

Pancasila menurut tata bahasa berarti lima dasar. Panca berarti lima, sedangkan sila berarti dasar kesusilaan. Kelima prinsip itu sebenarnya telah berakar – akar dalam jiwa dan kalbu rakyat Indonesia sejak berabad – abad sebelumnya. Presiden Soekarno sebagai perumus, penyambung lidah dari keinginan – keinginan dari perasaan – perasaan yang sudah lama terpendam, bisa dalam jiwa dan kalbu rakyat Indonesia sejak turun – temurun.

Lima sila dari pancasila itu adalah :

1. Ketuhanan Yang Maha Esa.

2. Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab.

3. Persatuan Indonesia.

4. Kerakyatan Yang Di Pimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan / Perwakilan.

5. Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

Jadi ideologi pancasila adalah pandangan hidup masyarakat Indonesia yang berdasar pada pancasila.[1]

B. PEDOMAN PENGHAYATAN DAN PENGAMALAN PANCASILA (P-4).

P-4 bertitik tolak dari pemikiran yang bersifat manusiawi dan kodrat manusia.

1. P-4 bersifat manusiawi yaitu :

a. Manusia yang hendak kita pahami dan manusia yang kita harapkan untuk menghayati dan mengamalkan pancasila bukanlah manusia yang kita tempatkan diluar batas kemampuan dan kelayakan manusiawi.

b. Manusia yang kita pahami bukan manusia yang luar biasa, tetapi manusia yang :

1). Selain memiliki kekuatan juga dilekati kelemahan.

2). Selain mempunyai kemampuan juga keterbatasan.

3). Selain mempunyai sifat yang baik juga sifat yang kurang baik.

c. Dengan perkataan lain, pedoman untuk menghayati dan mengamalkan pancasila harus tetap manusiawi, artinya pedoman yang memang mungkin dilaksanakan oleh manusia biasa.

d. Dalam usaha kita mengamalkan pancasila, kita memang perlu menyelaraskan angan – angan dengan kenyataan.

2. P-4 berpangkal tolak dari kodrat manusia.

a. Manusia sebagai makhluk sosial.

1). Pedoman pengamalan pancasila secara manusiawi harus bertolak dari kodrat manusia, khususnya dari arti dan kedudukan manusia dengan manusia lainnya.

2). Manusia hanya dapat hidup dengan baik dan mempunyai arti, apabila ia hidup bersama manusia lainnya dalam masyarakat.

b. Manusia tidak diciptakan dengan susunan tubuh yang dapat melakukan fungsinya dengan sempurna.

c. Untuk hidup secara sempurna manusia harus melengkapi susunan tubuhnya dengan alat peralatan lain.

d. Dari sejak lahir sampai meninggal dunia manusia perlu bantuan atas bekerjasama dengan orang lain.

e. Manusia sangat memerlukan pengertian, kasih sayang, harga diri, pengakuan, dan tanggapan – tanggapan emosional, yang sangat penting artinya bagi pergaulan dan kesejahteraan hidup yang sehat.[2]

C. PANCASILA DALAM KENYATAAN MASYARAKAT.

Selain daripada dalam peraturan – peraturan negara, pun dalam kenyataan masyarakat, pancasila menerima sambutan yang sekiranya tidak dapat disangkal. Sungguh mengherankan dan sebagaimana dinyatakan oleh Ki Hajar Dewantara, di benarkan sebagai kenyataan di akui dan di sahkan oleh bangsa Indonesia secara yakin dan ikhlas “ Pancasila menjelaskan serta menegaskan corak warna atau watak rakyat kita sebagai bangsa – bangsa yang beradab, bangsa yang berkebudayaan, bangsa yang menginsyafi keluhuran dan kehalusan hidup manusia, serta sanggup menyesuaikan hidup kebangsaan dengan dasar perikemanusiaan yang universal, meliputi seluruh alam kemanusiaan,” yang seluas – luasnya,” pula dalam arti kenegaraan pada khususnya,” tidak hanya di terima resiptif, akan tetapi sejak semula Pancasila berkuasa untuk menanam dan menggugah minat kreatif serta mengilhamkan untuk mulai mengusahakan diri ikut serta dalam pembangunan masyarakat dan negara. Pancasila adalah penafsiran dan bentuk baru, yang sesuai dengan keadaan daripada ideologi bangsa Indonesia.[3]

Pancasila sebagai alat pemersatu dan pengarah tujuan hidup kesatuan bangsa mengandung di dalamnya kodrat penyeragaman hukum dalam masyarakat persatuan Indonesia yang dalam sejarah perkembangannya telah juga membuahkan kesamaan asas kebudayaan yang tergambar dalam makna pernyataan “ Bhineka Tunggal Ika “ dalam lambang negara kita.

Sekarang perlu diperhatikan isi daripada dasar kerohanian negara, yang lazimnya disebut “ Pancasila “. Sebagaimana tadi telah dimaklumkan. Dapat diperkirakan bahwa di dalam keseluruhannya sudah barang tentu tidak demikian, karena sesuai dengan bentuknya kompromi semestinya hanya mengandung inti kesamaan diantara pendapat – pendapat yang saling bertemu. Akan tetapi sudah semestinya juga semua pendapat atau pendirian hidup atau pandangan hidup yang di dalam lingkungan kompromi itu, tidak dapat dan tidak mungkin dalam seluruhnya dan segala – galanya termasuk di dalam pancasila sebagai kompromi.

Sesungguhnya pancasila itu dapat dipahamkan merupakan asas damai, asas kesatuan dalam pergaulan perseorangan, pergaulan nasional, dan pergaulan dunia.[4]

Hidup bersusila atau hidup berkesusilaan, atau hidup bermoral adalah tuntutan yang paling pokok dalam menegakkan pancasila bagi keselamatan negara, bangsa, dan masyarakat oleh karena pancasila bukan hanya secara deduksi dan induksi menghimpun norma – norma hukum, tetapi yang paling banyak menghimpun pula norma – norma moral.

Negara Republik Indonesia adalah sebuah negara yang berdiri atas keinsafan bahwa hukum dan moral tidak dapat dipisahkan. Hukum tanpa moral adalah kezaliman. Moral tanpa hukum adalah anarchie dan utopie yang menjurus kepada perikebinatangan. Hanya hukum yang dipeluk oleh kesusilaan dan berakar kepada kesusilaan dapat mendirikan perikemanusiaan. Keinsafan persenyawaan antara hukum dan kesusilaan terpampang dalam UUD – 1945 dalam pasal 29 ayat 1, Negara berdasarkan atas Ketuhanan Yang Maha Esa, mengandung arti bahwa negara, bangsa dan masyarakat mematuhi norma – norma Ilahi yang meliputi norma – norma hukum dan norma – norma kesusilaan.

Dalam menilai manusia menurut ukuran pancasila hanya dapat memperhatikan perkataan, perbuatan dan laku perangai manusia itu.[5]

BAB III

PENUTUP

KESIMPULAN.

1. Pancasila merupakan dasar negara atau sebagai pandangan hidup yang juga memiliki tujuan paling pertama atau pokok yang terletak pada sila ke-5 yaitu “ mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia “. Yang harus dicapai dengan mengikuti sungguh – sungguh tuntutan empat prinsip besar yaitu empat sila lainnya yang merupakan dasar negara.

2. Pancasila menjelaskan serta menegaskan corak warna atau watak rakyat kita sebagai bangsa yang menginsyafi keluhuran dan kehalusan hidup manusia. Serta sanggup menyesuaikan hidup kebangsaannya dengan dasar peri kemanusiaan yang universal.

3. Pancasila sebagai alat pemersatu dan pengarah tujuan hidup kesatuan bangsa mengandung di dalamnya kodrat – kodrat penyeragaman hukum dalam masyarakat persatuan Indonesia yang dalam sejarah perkembangannya telah juga membuahkan kesamaan asas kebudayaan yang tergambar dalam makna pernyataan “ Bhineka Tunggal Ika “ dalam lambang negara kita.

DAFTAR PUSTAKA

Hazairin. 1983. Demokrasi Pancasila. Jakarta : Rineka Cipta.

Kansil, C. S. T. 1993. Latihan Ujian Pancasila. Jakarta : Sinar Grafika.

Notonagoro. 1974. Pancasila Dasar Falsafah Negara. Jakarta : Bina Aksara.



[1] Drs. Buhanuddin Salam. Filsafat Pancasilaisme. PT. Bina Aksara. Jakarta. 1998. hlm. 7

[2] Drs. C.S.T. Kansil. S.H. Latihan Ujian Pancasila. Sinar Grafika. Jakarta. 1993. Hlm. 79.

[3] Prof. Dr. Mr. Drs. Notonagoro. Pancasila Dasar Falsafah Nagara. Bina Aksara. Jakarta. 1974. Hlm. 12 –13.

[4] Ibid. Hlm. 57 – 58.

[5] Prof. Dr. Hazairin S.H. Demokrasi Pancasila. Rineka Cipta. Jakarta. 1983. Hlm. 103.

Posting Komentar

0 Komentar